Semalaman aku kembali tidak bisa tidur meski tubuh dan benakku lelah luar biasa dan hampir remuk. Aku terus memikirkan ucapan Mak Ncum: kelenteng kecil dekat hutan jati di luar Benteng. Di perbatasan Tangerang menuju Cikupa dan Balaraja memang banyak kebun dan hutan jati. Tapi mencari satu bangunan kecil di area seluas itu tanpa alamat jelas sama saja seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Izin sekolah hari kedua jelas bakal membuat Pak Suryo makin curiga, tapi kepalaku sudah terlalu penuh untuk memikirkan pelajaran.
Pagi-pagi sekali, aku mendatangi rumah Akhmad untuk meminjam sepeda motor bebek tuanya.
"Lu kenapa sih sebenarnya, Ken?" tanya Akhmad heran saat menyodorkan kunci motor di depan gang. "Dari kemarin muka lu kusut begitu. Kalau ada masalah, cerita sama gua. Jangan nekat sendirian."
"Gua mau cari alamat kenalan tua Papa di perbatasan, Mad. Ada urusan penting," jawabku berbohong. "Makasih ya, Mad. Kalau Pak Suryo nanya, bilang aja gua nemenin Mak ke klinik."
Akhmad menepuk bahuku. "Ya udah. Ati-ati lu. Rem belakang motor gua agak blong."
Aku mengangguk, lalu menggas motor tua itu membelah jalanan Tangerang yang mulai dipadati truk-truk pabrik. Hampir tiga jam aku berputar-putar. Jalan aspal berganti menjadi jalan tanah berdebu yang membelah kebun-kebun jati meranggas. Udara siang menyengat, membuat seragam sekolah di balik jaketku basah oleh keringat. Berulang kali aku berhenti di warung dan kelontong tepi jalan, menanyakan keberadaan "kelenteng dekat hutan jati".
Jawabannya selalu sama: orang-orang menggeleng bingung atau menunjuk arah yang saling bertolak belakang. Sampai akhirnya, seorang kakek tua pemotong kayu di tepi jalan memberi petunjuk.
"Kalau kelenteng rame mah kagak ada di sini, Tong," kata si kakek sambil mengasah parangnya. "Tapi kalau kelenteng kecil sepi dari kayu—ada di balik bukit sana. Masuknya lewat jalan setapak bekas tebangan."
Aku menggas motorku setelah mengucap terima kasih. Jalan setapak itu sempit dan licin oleh daun jati kering. Motor Akhmad kuteroboskan pelan-pelan sampai deru mesinnya kumatikan di bawah pepohonan jati yang tinggi. Di sebuah lembah kecil, berdiri sebuah kelenteng kayu beratap genteng tua yang berlumut. Tempat itu sangat sunyi. Tidak ada papan nama. Hanya ada lonceng perunggu kecil yang menggantung di teras dan bau hio yang terbakar.
Aku menyandarkan motor, lalu menaiki tangga semen yang retak-retak.
Di dalam ruangan utama yang diterangi lilin-lilin merah, terlihat sosok seseorang membelakangiku di depan altar. Kepalanya gundul licin, tapi dari sosoknya yang ramping, dia jelas seorang perempua. Tangannya yang kurus mengayunkan pemukul kayu, mengetuk muyu—alat ritual berbentuk ikan—berulang kali.
TOK... TOK... TOK...