CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #7

Sisa Bau Mayat

Seolah belum cukup ketakutan yang kualami, malam itu, di kamar sempitku yang pengap, mimpi buruk itu datang.

Api lilin merah di atas sebuah altar meliuk-liuk liar seperti hendak padam ditiup angin dingin yang tak berwujud. Pelan-pelan, sebuah bayangan hitam muncul merembes keluar dari dalam potret tua yang terpajang di atas altar.

Bayangan itu bergerak lambat, merayap turun lalu perlahan mewujud menjadi sosok yang mengerikan. Lengan dan kakinya kurus kering seperti gagang sapu, tapi perutnya buncit membusung seperti perut babi betina yang sedang bunting. Dari mulutnya yang menganga lebar, tercium bau busuk, menyemburkan lolongan yang membuat gigiku gemeletuk menggigil.

Sosok itu melangkah makin dekat, merambat ke atas tempat tidurku. Dalam jarak yang begitu rapat, wajahnya terangkat dan menghardikku tanpa suara:

“Keturunan durhaka ..!”

Aku tersentak bangun dengan dada yang dihantam rasa sesak luar biasa. Adegan dalam mimpi itu terasa begitu nyata. Bau mayat yang menyengat seolah-olah masih tersisa mengendap di dalam kamarku, menusuk paru-paru hingga membuatku lama terbatuk-batuk hebat. Seluruh tubuhku menggigil kedinginan hingga pagi menjemput. Rasa takut yang kelewat batas membuatku mengompol begitu banyak, hingga rembesan kencing basah menetes dari kasur busa tipisku ke atas lantai semen kamar. Aku tak ingat kapan terakhir aku mengompol sebelum dinihari itu.

Wajah sosok dalam mimpi itu samar dan tertutup bayangan kelam, tapi ada satu yang terekam sangat jelas di kepalaku: dada sosok itu berlubang besar, dan di kulit dadanya yang pucat terukir gambar naga besar berwarna hijau ...

Dengan tubuh yang masih menggigil kedinginan, aku bergegas bangun. Aku melepas celana dalamku yang basah, lalu secepat mungkin menyeret sprei dan sarung bantal guling kotor ke sumur belakang sebelum Papa dan Mama bangun.

Di bawah guyuran air sumur yang dingin menembus kulit, aku menyikat kain-kain itu dalam diam. Bayangan dada berlubang dengan tato naga hijau serta hardikan "Keturunan durhaka!" terus berputar-putar di dalam kepalaku.

Lihat selengkapnya