CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #8

Kumaha Engke!

Rasa cemas yang memuncak membuat kakiku tidak bisa berdiam diri di rumah. Sore itu—hari ke-12 bulan tujuh Imlek—aku mengayuh sepeda tua milik Papa menyusuri jalanan Tangerang menuju kawasan Pasar Lama. Aku tidak bisa hanya menunggu di kamar dalam ketakutan tanpa arah. Hari ini adalah hari terakhir sebelum pintu kegelapan yang diucapkan Bidan Ang dibuka: rangkaian tiga malam yang berawal dari malam ke-13 besok, hingga puncaknya pada malam Chit Gwee Pua, pertengahan bulan Imlek nanti.

Makin mendekati kawasan Kelenteng tua Boen Tek Bio yang berdiri sejak abad ke-18 itu, kesibukan warga Benteng makin terasa padat dan mencekam. Lampion-lampion merah tergantung berderet di sepanjang gang sempit, bergoyang pelan ditiup angin sore. Di pelataran, aroma hio yang tebal bercampur bau minyak pelita, lilin merah yang meleleh, dan wewangian bunga persembahan menggantung pekat di udara.

Orang-orang lalu lalang bersiap untuk Chit Gwee Pua—Hari Raya Hantu.

Tetapi di antara semua perlengkapan ritual di pelataran, mataku terpaku kaku pada satu sosok raksasa yang sedang dirakit dari rangka bambu dan kertas warna-warni di samping aula utama. Tinggi wujudnya menjulang hampir empat meter. Wajahnya mengerikan berlumur warna-warni gelap, dengan mata membelalak sebesar piring, taring-taring tajam yang mencuat keluar dari mulutnya yang menganga lebar, dan lidah merah menjulur panjang hingga ke dada. Di atas mahkotanya yang garang, terpasang patung kecil Dewi Kwan Im.

Melihat raksasa kertas itu, bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak. Bentuk perutnya yang membuncit dan raut mukanya yang haus darah membangkitkan kembali ingatan kelam tentang sosok mengerikan dalam mimpiku semalam.

"Da Shi Ye, Raja Hantu." Sebuah suara serak terdengar di belakangku. Aku tersentak kaget dan berbalik.

"Eh, Engko Suwanta..." jawabku gugup, berusaha menyembunyikan getar di suaraku.

Engko Suwanta melirik raksasa bambu di depan kami, lalu memberiku kuliah singkat.

Lihat selengkapnya