Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit malam ketika aku mengayuh sepeda tua milik Papa menembus keheningan Pasar Lama.
Kelenteng Boen Tek Bio tampak seperti pulau cahaya di tengah gulita kota Tangerang. Lampion-lampion merah bergoyang perlahan ditiup angin malam yang dingin. Ratusan peziarah memadati pelataran hingga ke ruang utama. Asap hio menggantung begitu tebal dan pekat, membuat mataku perih dan tenggorokanku sesak. Bunyi gemerincing genta ritual dan gema lantun pendoa membalut udara dengan aura magis yang meremangkan bulu roma. Padahal, ini belum apa-apa, pikirku
Orang-orang di sekelilingku sibuk menancapkan hio, menangkupkan tangan, dan memanjatkan doa demi keselamatan di Bulan Hantu. Tidak ada seorang pun yang menyadari kedatanganku. Tidak ada yang tahu ketakutan hebat yang sedang menggerogoti dadaku.
Kecuali satu sosok. Di balik keremangan lorong luar, dekat pilar batu yang gelap, aku merasa ada sesuatu yang sedang mengawasiku. Sebuah kehadiran terselubung—sosok yang berdiri mematung di antara bayang-bayang. Aku tak bisa melihat wajahnya, tak tahu siapa dia, tetapi sorot tak berwujud dari sudut gelap itu seolah sanggup menembus ruang dan waktu, mengetahui persis bahwa malam ini aku sedang menyerahkan diriku pada alam gaib.
Aku melangkah maju ke depan altar utama, merogoh tiga batang hio dari meja persembahan, lalu menyalakannya pada lilin merah raksasa. Kata-kata Bidan Ang Kim Nio hadir dalam pikiranku: “Kau bukan anak sembarangan! Pada malam-malam itu, bakar tiga hio dan sembahyanglah! Kau akan bertemu dengan banyak arwah. Tiga arwah akan bicara padamu. Bersiaplah menanggung kebenaran yang kau cari!!"
Apakah sebagai seorang bhikkuni dia tahu karunia, atau kutuk yang kupunya di masa lalu, sehingga aku dapat bertemu dan bercakap dengan hantu dan arwah? Dengan jemari yang gemetar hebat, aku menggenggam hio membara itu di depan dada, lalu memejamkan mata rapat-rapat.
Seketika, kesadaranku seolah ditarik paksa keluar dari raga. Lantai batu di bawah pijakan kakiku terasa dalam tak berdasar dan aku seolah sedang melayang. Riuh genta pendoa dan kebisingan di sekelilingku mendadak lenyap, disapu oleh dentuman meriam yang memekakkan telinga, derap ribuan kaki panik, dan ringkik kuda perang yang menjerit kesakitan di tengah pusaran asap mesiu yang membakar tenggorokan.
Aroma dupa hilang, digantikan oleh bau amis darah segar, bau busuk mayat yang membusuk ditimpa terik matahari, serta bau hangus daging terbakar.
Di hadapanku—hanya beberapa langkah dari dadaku—hadir sesosok lelaki asing bertubuh tegap dengan kemeja kusam bernoda lumpur kering. Pakaiannya koyak-moyak. Di dada kirinya, menganga sebuah lubang hitam sebesar kepalan tangan yang masih menyemburkan darah kental berwarna kehitaman. Tangan kanannya yang kekar memegang erat sebilah pedang Tiongkok tua yang bilahnya basah, meneteskan darah segar ke tanah! Aku tidak tahu siapa lelaki menakutkan ini!
Tak hanya dia. Di belakang dan di sekeliling sosok berdarah itu, aku bisa merasakan dan menyaksikan kerumunan ribuan arwah berdesakan menembus kegelapan. Wujud mereka begitu mengerikan. Sosok-sosok tanpa kepala dengan leher buntung yang masih memancurkan darah; manusia-manusia dengan perut jebol hingga usus dan isi perut mereka terburai menggantung, wajah-wajah hangus hitam legam seperti arang, serta tengkorak dengan rongga mata bolong bekas tercungkil yang digerogoti belatung!
Namun, di antara ribuan arwah berwujud hancur itu, sosok lelaki berdarah yang memegang pedang inilah yang terasa paling pekat, kuat, dan menguasai jiwaku.
Lelaki berdarah itu melangkah mendekat. Matanya yang nyalang dan merah menatap lurus ke dalam bola mataku. Suara beratnya terdengar menggelegar dalam bahasa Hokkien kuno yang agak serak dan patah-patah:
"Lú sī siáng?"— Siapa kau?
Aku tidak begitu mengerti Hokkien, tapi anehnya aku bisa mengerti setiap katanya.
"A-aku... Lim Ie Ken," jawabku terbata-bata di dalam batin, menyebutkan nama lengkapku.
Lelaki berdarah itu mendengus kasar. Senyum dingin yang getir terukir di wajahnya yang bersimbah darah.
“Lu si goa m-siau e kau-tai! Lu na-si Lim-se e lang, li to be-hian bat goa kau lu e e-kha!”
Seketika, arti kalimat gaib itu membakar otakku: Kau keturunanku yang bodoh! Jika kau orang she Lim, kau tidak akan bisa tahu aku hadir di hadapanmu!
Sebelum aku mempertanyakan kata-katanya, lelaki berdarah itu menancapkan pedangnya ke tanah.
“Darah tidak bisa bohong, bodoh! Sekarang, dengarkan aku!” hardiknya.
Mulutnya tidak bergerak, tetapi kisah hidupnya mengalir deras bagai air bah, membanjiri benakku tanpa bisa ditahan:
Matahari terasa sangat cepat terbenam di tanah Yinni[1], di tepi sungai tempat kapalku mendarat di Liongwan[2].
Di sebuah rumah dengan dinding anyaman bambu, dalam gelap setiap malam, hanya ada suara gemuruh sungai, suara babi-babi di kandang, suaraku dan suara perempuan berkulit legam bernama Ijah. Aku dan dia tak saling mengerti bahasa mulut, tapi sudah tentu kami mengerti bahasa hasrat. Ada pakaian yang turun ke tanah dan tentunya ada benda yang naik. Dalam berahi yang memuncak, mulut kami bekerja bukan untuk bicara dan suara-suara yang dikeluarkannya tak harus berupa kata-kata.
Kami tak pernah peduli bau keringat dari ketiak kami berdua. Pun tidak bau air liur para babi yang masuk terbawa angin malam. Pun tidak dengung para nyamuk yang berpesta di sekujur kulit telanjang kami. Perempuan berkulit legam itu mendesah, merintih dan mengerang. Tarian penuh berahi kami diiringi bunyi derit ranjang kayu reyot yang kuyakini setiap saat bisa patah karena menjadi ajang ketahanan tandak dua manusia setiap malam. Pada suatu titik, desahan perempuan itu berubah menjadi pekikan liar tertahan, diikuti dengusku yang bersaing dengan dengus para babi di luar. Segera setelah napas yang memburu dan degup jantung mereda, dalam gulita malam, kami segera terlelap dengan peluh membanjir.
Dari pertempuran hasrat yang kami lakukan setiap matahari undur diri, tentu saja perempuan itu mengandung dan melahirkan anakku setiap tahun. Aku merasa aneh melihat anak-anak berkulit legam dan bermata sipit yang dilahirkannya. Benarkah anak-anak hitam itu anakku? Aku tak tahu cara membesarkan anak tapi tetap menamai anak-anak hitam itu dengan margaku, Ong.
Pada suatu hari kauw gwee[3] yang mendung, aku pergi mengantarkan dua ekor babi dan dua anak babi pada langgananku, Asiong Ko di pasar di Selatan Pa Shia[4]. Dalam perjalanan pulang, aku melihat banyak sekali, mungkin ratusan Tenglang sebangsaku berkumpul di perkebunan tebu dekat pabrik gula. Mereka kebanyakan muda, kurus tapi berotot. Kulit mereka legam terbakar matahari dan berkilat saat berkeringat. Rambut taucang mereka masih hitam semua. Mata mereka nyalang dan curiga pada siapa pun yang mereka lihat, termasuk kepadaku, sesama Tenglang[5] ber-taucang[1].
[1] Kuncir . Hari masih siang tapi mereka tak terlihat bekerja. Kudengar, puluhan pabrik gula bangkrut dan tutup, dan para pemiliknya tak peduli akan nasib para kuli pabrik yang datang begitu jauh dari negeri leluhur untuk suatu harapan besar yang kini sirna.
Aku bersikap waspada. Orang-orang seperti ini bisa menyerang siapa pun saat mereka menganggur dan kelaparan. Anak-anak itu terlihat kurang terdidik. Orang-orang seperti mereka, muda, bertenaga besar, lapar dan kalut, disulut sedikit saja akan segera menjadi liar dan memberontak. Tidak jauh dari situ, seorang lelaki setengah baya sedang berbicara dengan suaranya yang dalam dan lantang. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk melihat bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Belakangan, aku tahu bahwa namanya Souw Phan Ciang. Orang Jawa kelak menyebutnya Sepanjang[6].
“Belanda di Pa Shia menangkapi orang-orang kita yang tidak bekerja. Katanya mau dipekerjakan ke Ceylon[7]. Yang sebenarnya, mereka dibuang di tengah laut. Nie Hoe Kong[8]? Dia hanya antek Belanda untuk menindas kita. Si pengecut itu tidak bakalan punya nyali membela kita. Pemimpin Belanda, Lau Pek Mo Kui[9] sudah mengumumkan untuk membunuh semua orang kita, tidak peduli perempuan, orang tua dan anak kecil. Mau kita biarkan?” kata Souw dengan wibawanya. Dia terlihat tenang, tidak seperti orang yang sedang menghasut. Lebih dari sekali, aku merasa dia menatap tajam kepadaku yang memandangnya dari kejauhan.
Orang-orang ribut menyambut kata-kata Souw.
“Bisa apa kita? Mereka punya bedil. Kita hanya punya linggis, pentungan dan sedikit pisau dan pedang.”
“Kau pilih mati setelah melawan atau mati konyol dibuang di laut setelah melihat istrimu diperkosa dan anakmu disembelih?” jawab Souw.
“Jumlah mereka lebih banyak. Mereka juga dibantu para huana[10] dari Timur Yinni.”