“Pendaman pedangku kugali dan aku bersama dua belas teman berangkat setelah gelap, bergabung dengan pasukan Souw Phan Ciang. Souw melihat rombonganku datang dan menyambutku dengan anggukan. Kami bersiap menyerbu. Namun pasukan gabungan Belanda putih dan hitam sepertinya mengetahui keadaan kami ke mana pun kami bergerak. Kami curiga ada pengkhianat di antara kami. Orang-orang Moor dan suku-suku lain saat itu ikut-ikutan memusuhi kami. Entah karena mereka takut atau karena dijanjikan sesuatu oleh Belanda yang memang terkenal licik dan pandai mengadu domba dan memecah belah.
Hari itu, kauw gwee tahun monyet 2291. Hasil dari perang itu sudah kami ketahui sejak awal. Kami jelas kalah jumlah dan senjata dan hanya menang semangat. Satu per satu dari kami roboh disabet pedang atau diterjang peluru pasukan mereka yang jumlahnya amat banyak. Kulihat bola mata musuh kami pun sepertinya enggan mematuhi perintah membunuh kami yang sudah tidak berdaya dan iba melihat kami para Tenglang bermatian seperti lalat. Aku terus mengayunkan pedang dan merobohkan banyak Belanda berbagai rupa dan warna. Tidak pernah aku membunuh orang sebanyak itu dalam satu hari. Namun giliranku tumbang hanya tinggal soal waktu.
Dan waktu itu tidak harus kutunggu lama. Seketika kurasakan dada kiriku amat panas. Darah menyembur deras dari lubang yang menganga. Aku roboh tersungkur. Di kiri kananku tumpukan mayat para Tenglang bergelimpangan. Tidak ada tubuh yang utuh. Kulihat Souw dan kawan-kawan mundur melarikan diri. Pandanganku semakin kabur. Aku melihat Mei Hoa, anak-anakku, juga Ijah dan anak-anak hitamku. Mereka semua tersenyum. Lalu, semuanya menjadi gelap.
Namun itu bukan akhir segalanya. Tian Gong belum mengizinkanku pulang. Arwahku bangkit dan bisa kulihat semua sisa pasukanku menjadi mayat. Belanda-belanda dan para budaknya terengah-engah saat melemparkan bangkai-bangkai kami ke sungai yang memerah oleh darah kami. Sungai itu di kemudian hari akan dinamai Kali Ang Ke, sungai merah. Aku bisa melihat sisa pasukan Souw bergerak ke arah Timur. Kelak dia bersekutu dengan raja Jawa dan terus meneruskan perlawanan. Dia tak pernah tertangkap.
Lau Pek Mo Kui, orang yang memerintahkan pembantaian terhadap sepuluh ribu Tenglang ditangkap oleh bangsanya sendiri saat melarikan diri pulang ke negerinya. Kusyukuri bahwa dia tidak ditenggelamkan di Samudera Hindia. Biar kami saja yang menghukumnya. Dia dibawa kembali ke Pa Shia dalam keadaan sakit dan dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan bangsanya.
Kami mengunjunginya di ruangan penjaranya yang dipenuhi bau keringat, kencing, tahi dan semua bau cairan tubuhnya. Dan yang kumaksud dengan ‘kami’ adalah arwah sepuluh ribu Tenglang ber-taucang yang mati dalam dendam karena perintah kejinya. Bukankah kau tahu, orang yang mati dalam dendam dan tidak dikuburkan secara layak akan selamanya bergentayangan?
Kami menampakkan diri kepadanya dengan berbagai rupa dan bau kami, menunjukkan kepadanya bagaimana kami mati. Beberapa dari kami hadir tanpa kepala. Aku hadir dengan lubang menganga di jantungku. Yang lain dengan belatung yang menjalari lubang mata, hidung dan kupingnya. Ada yang datang dengan kemaluan terpotong. Kami tunjukkan kepadanya luka menganga dari tubuh kami yang telanjang bulat dan dipenuhi lendir busuk dan lumpur. Tentunya lengkap dengan bau anyir darah dan bau kematian masing-masing.
Kami menatapnya tanpa bicara, menunjukkan seringai kami, menertawakannya, meludahi, mengencingi dan memberaki wajahnya beramai-ramai setiap saat, ketika dia bangun, tidur bahkan makan. Muntahannya karena tak tahan menghidu bau kami dan melihat tumpukan tahi kami di piring makanannya menambah aneka bebauan busuk kamarnya. Lau Pek Mo Kui terus menerus berteriak dan meracau ketakutan.
Usaha Lau Pek Mo Kui untuk berusaha menunda pelaksanaan hukuman matinya hanya memperpanjang masa kunjungan kami kepadanya. Dia meraung-raung memanggil penjaga agar bisa pindah ke sel lain, tapi ke mana pun dia pindah, kami selalu setia mendampinginya. Para penjaga penjara yang tidak menyadari kehadiran kami, menganggapnya gila dan menyumpahinya agar segera mati saja. Itu tentunya hanya soal waktu.
Suatu hari di bulan kelima tahun kambing 2302, Lau Pek Mo Kui meregang nyawa dalam kegilaan dan ketakutannya. Dia berteriak-teriak dengan suara parau mengutuki kami.
“God verdomme[1]! Setan Cina bajingan! Pergilah ke neraka, monyet-monyet kuning!” adalah kata-kata terakhirnya sebelum napas dan jantungnya berhenti. Matanya masih terbuka lebar dan tangannya masih menunjuk-nunjuk ke arah kami. Tubuhnya sembab dan penuh cairan karena penyakitnya. Rambut putihnya yang panjang hampir botak. Kengerian jelas terlihat di matanya yang membelalak. Pasti bukan cara mati meyenangkan.
Bangsanya sendiri, yang kudengar adalah bangsa yang takut akan Tuhan, ternyata amat jijik dengan apa yang dilakukannya terhadap kami. Dia dikuburkan tanpa upacara seperti selayaknya seorang bekas pembesar. Sejak itu dia resmi menjadi arwah gentayangan seperti kami. Kami masih terus menikmati merundungnya sampai hari ini. Dia masih terus berteriak ketakutan melihat kami. Kau mungkin bisa sesekali mendengar suara teriakannya saat malam di salah satu gedung tua peninggalan Belanda di Kota Tua Pa Shia.
Aku masih berharap bisa mendatangi keluargaku setiap chit gwee, terutama di hari chit gwee pua. Aku gembira anak cucuku masih menyembahyangiku, setidaknya sampai beberapa keturunan. Ijah, perempuan hitam legamku itu, sudah mendidik anak-anakku dengan sangat baik.
Namun, semuanya berubah perlahan. Setelah ratusan chit gwee, tidak ada lagi yang menyembahyangi aku. Arwahku melayang di ketinggian atap kelenteng Boen Tek Bio, lalu turun ke lorong-lorong dan ruang-ruangnya, lalu kucari di rumah-rumah. Tidak ada yang peduli. Sampai suatu hari, seorang keturunan jauhku, Ong Beng Seng, lahir tepat di hari chit gwee pua, dan dia kembali mendoakanku setelah didatangi arwah kakeknya.