Pagi harinya, meski kepalaku pening dan mataku merah kurang tidur setelah malam ke-13 yang mencekam, aku berpura-pura memakai seragam sekolah agar Papa dan Mama tidak curiga. Namun, begitu melintas di gang sekitar Pasar Lama, aku melipir ke kamar mandi umum, melepas seragam sekolahku, dan menggantinya dengan kaus oblong yang kubawa di dalam tas. Mana mungkin aku sanggup masuk sekolah setelah “perjumpaan”-ku dengan arwah Ong Tiauw Ki dinihari tadi?
Langkahku terseret ragu menuju gang sempit dekat bantaran kali tempat Engko Suwanta biasa duduk melamun di atas bangku kayu tua.
Ingatanku melayang pada kejadian beberapa waktu lalu—saat kemeja Engko Suwanta yang lusuh terkuak angin. Di dada dan pangkal lehernya, aku sempat melihat keloid tebal bekas luka bakar hebat, seolah kulitnya pernah disetrika. Namun di balik parut merah-kelabu yang cacat itu, samar-samar masih terbayang lekukan dan warna hijau tato naga yang menyeringai.
Aku mendekat, menyenderkan sepedaku di dinding bata. Suwanta sedang menyulut rokok kreteknya.
"Ko..." panggilku pelan, mencoba memecah hening.
Suwanta tidak menoleh, hanya menghembuskan asap tembakau tajam dari hidungnya. "Kagak sekolah lu, Ken? Tumben jam segini nangkring di kali?"
"Ko Suwanta..." suaraku tertahan di tenggorokan. Aku menelan ludah, berusaha menetapkan lidahku yang mendadak kelu. "Lu... orang lama di Pasar Lama, kan?"
"Emang kenapa? Mau nanya apaan lu?" gumamnya acuh tak acuh, masih menatap keruhnya air Cisadane.
"Bisa cerita... soal orang yang megang kawasan sini, Ko? Sebelum... sebelum tentara penembak misterius datang?"
Wajah Suwanta langsung menegang, menatap mataku tajam.
"Kagak usah ngaco lu, Ken. Cerita itu kagak ada gunanya disenggol-senggol lagi," potongnya cepat, suaranya mendadak dalam dan tegang. Ia berdiri seperti ingin menghindariku.
"Ong Beng Seng, Ko," bisikku cepat sebelum ia beranjak. "Si Naga Hijau."
Rokok di jemari Suwanta terlepas jatuh. Wajah tua yang biasanya tenang itu seketika memucat bagai mayat yang sudah mati kemarin. Matanya terbeliak lebar, menatapku dengan kombinasi rasa terkejut dan ketakutan yang murni. Kedua tangannya gemetaran hebat hingga ia terburu-buru meraup kemejanya, merapatkan bagian dada seolah takut luka cacat bekas setrikaan di kulitnya terlihat. Matanya liar memantau sekeliling lorong gang yang sepi, seolah-olah nama itu adalah tabu terlarang.
"S-siapa... siapa yang sebut nama itu ke lu, Ken?!" bisik Suwanta dengan suara tercekat dan parau. Tangannya yang dingin mencengkeram bahuku keras-keras, mencengkeram begitu kuat hingga aku kesakitan. Orang tua ini kelihatan memang bekas jagoan. "Siapa?!"
"Gue... gue cuma pernah denger desas-desus, Ko..." bohongku terbata-bata, merinding melihat kemarahan dan ketakutannya.
Suwanta meraup wajahnya yang basah oleh keringat dingin dengan kedua telapak tangan. Napasnya memburu pendek-pendek.
"Jangan pernah sebut nama itu sembarangan, Ken!" desisnya panik, matanya berkaca-kaca oleh memori kelam yang mendadak membongkar kepalanya. "Lu kagak tau ngerinya zaman itu! Zaman pas tentara penembak misterius bergerak kayak siluman di tengah malam! Siapa aja yang punya tato di badan diseret, ditembak, terus dibuang ke kali pake karung goni!"
Suwanta menepuk dadanya sendiri dengan guncangan emosi yang hebat, tepat di balik kemeja lusuhnya.
"Gue ini anak buah kepercayaannya Ong Beng Seng! Pas banyak orang bertato mati dikarungin, orang-orang panik setengah mati! Lu tau apa yang gue dan temen-temen gue lakukan supaya tetep hidup?! Gue minum arak sampe mabok, terus gue bakar setrikaan di atas kompor sampai merah membara, terus gue tempel sendiri ke dada gue! Gue setrika kulit gue sendiri sampai bau daging gosong memenuhi kamar, cuma demi ngilangin gambar naga hijau itu!" Suwanta merintih pelan, giginya gemeletuk. "Sakitnya bikin gila, Ken... tapi rasa takut ditembak petrus jauh lebih ngeriin daripada kulit terbakar!"
Ia menyapu keringat dingin di dahinya dengan lengan baju.
"Tapi Aseng... Ong Beng Seng..." lanjut Suwanta dengan suara yang makin meliuk pelan dan sarat penyesalan. "Dia kagak mau ngapus tatonya. Dia tetep bangga memamerkan Naga Hijau di dadanya. Dia pikir temen-temen pejabat dan uang sumbangannya bisa ngelindungin dia. Tapi pas hari Chit-Gwee-Pua Tahun Tikus Kayu itu... beberapa orang berambut cepak datang menjemputnya. Aseng dibawa pergi... dan esok harinya, mayatnya ngambang di Cisadane dengan bolong luka tembak di dadanya!"
Berarti benar memang pernah ada tokoh bernama Ong Beng Seng, bukan hanya cerita legenda kosong, batinku. Aku berpamitan pada Engko Suwanta yang masih tertegun dengan mata berkaca-kaca. Aku harus menenangkan diri menghadapi malam ini.
Malam ke-14 Imlek tiba dengan keheningan yang jauh lebih berat dan mencekam. Toko-toko kelontong Tionghoa sudah tutup rapat sejak magrib. Lampion-lampion merah di sepanjang jalan bergoyang lambat, memancarkan pendar merah membara yang memantul di atas genangan air hujan sore tadi.
Di balik keremangan lorong luar, dekat pilar batu yang sama, aku merasakan kehadiran sosok gelap yang kulihat kemarin kembali mengawasiku, berdiri mematung tanpa bersuara.
Di pelataran, sosok raksasa Da Shi Ye berdiri kokoh menyambutku dalam cahaya lilin. Wajahnya yang bertaring tampak seolah sedang menyeringai menatapku. Aku melangkah masuk ke ruang altar utama. Tanganku yang dingin menyambar tiga batang hio, membakarnya pada nyala lilin merah raksasa, lalu menangkupkannya tegak di depan dada. Kupejamkan mata rapat-rapat.
Seketika, kesadaranku kembali ditarik paksa dari raga. Riuh gema pendoa di sekelilingku lenyap total. Aroma dupa lenyap, berganti bau busuk lumpur sungai, amis darah yang mengering, bau kencing, serta wangi asap tembakau cengkih yang menyengat paru-paru.
Saat kubuka mataku di alam gaib, pandanganku menumbuk sesosok lelaki berbadan bidang yang berdiri hanya beberapa langkah di hadapanku. Ia bertelanjang dada, memamerkan lukisan tato naga hijau besar yang menyelimuti seluruh dada kekarnya, dengan kepala naga yang menganga menyemburkan lidah api merah keemasan tepat di atas ulu hatinya.