“..Aku pergi dari lapak paman bedebah itu, menahan tangis dan lapar, berkeliaran di jalan-jalan Pasar Lama, bertemu aneka rupa manusia dan hantu setiap hari. Hantu yang paling sering menampakkan diri padaku berupa dan berperilaku aneh. Tidak terlihat mata, hidung, dan mulutnya. Dia hanya mengikutiku dari jauh dalam diam, tanpa kata-kata.
Berkelahi dengan para preman kroco jalanan adalah makananku setiap hari. Meski lebih banyak kalahnya, sering bonyok berdarah, tapi aku tak pernah mundur, apalagi lari. Perlahan, keberanianku menarik hati Abauw, sang jagoan Pasar Lama. Aku mulai dipercaya Abauw jadi pengedar obat emperan, diam-diam menjual obat teler, obat ngaceng, atau obat penggugur bunting murahan. Semuanya bisa bikin mati orang tetapi selalu dicari orang.
Setelah beberapa waktu, merasa cukup digdaya dan tak puas hanya menjadi pengedar kelas emperan, aku bersama orang-orangku, bersenjatakan samurai, menantang kelompok Abauw. Banyak yang menjadi saksi, enam tembakan pistol Abauw padaku dari jarak amat dekat, semuanya luput. Abauw, terperanjat tak percaya, terburu-buru mengisi peluru. Namun, tidak ada yang bisa mengisi peluru dengan pergelangan tangan yang keburu putus ditebas samuraiku. Kuletakkan samurai dan kubiarkan Abauw hidup, dibawa pergi orang-orangnya sambal terus menjeritkan kutukan kepadaku. Namanya tidak pernah lagi terdengar.
Sebagai “raja” baru Pasar Lama, aku dikenal sebagai si Naga Hijau seperti gambar besar makhluk hijau keemasan yang kepalanya menyemburkan api di dadaku. Aku, dengan kekayaanku, lantas menyumbang banyak bagi orang-orang kampung Sewan untuk membangun sekolah dan masjid, dan membantu banyak anak kampung agar bisa sunatan dan kawin massal. Setiap Lebaran dan Sinchia, kubagikan ratusan angpauw. Uang, kuasa, dan keramahtamahanku membuatku dekat pada orang-orang seragam cokelat dan hijau berbagai pangkat.
Aku lalu mengirim orang menyelundupkan candu di lapak pamanku, lalu melaporkannya kepada teman-teman seragam cokelatku, lantas mengunjungi si paman di tahanan.
“Berlutut! Sembah anak PKI ini, dan kau bebas hari ini! Setelah itu, pulang dan matilah di rumahmu! Tidak mau? Tidak apa, tinggallah dan matilah membusuk di sini,” ujarku perlahan sambil pura-pura beranjak. Aku terbahak dalam hati ketika si tua itu terbirit-birit berlutut, menangis, dan mengemis minta ampun kepadaku.
Betapa uang begitu mudah membalikkan nasib, aku membatin. Satu dendamku terbalaskan hari itu.
Arwah leluhur, terutama Engkongku, selalu kusembahyangi dengan patuh. Namun, tidak bagi ayahku, yang tidak pernah kuhormati. Setiap tahun, pada hari Chit-Gwee-Pua, kuberi sesaji makanan berlimpah di Kelenteng Boen Tek Bio. Sesaji itu kemudian diperebutkan orang-orang miskin yang menunggu sejak pagi. Setiap tanggal itu, aku bersembahyang khusyuk semalam suntuk di kelenteng itu, dengan keringat dingin mengucur deras, seolah itu hari terakhirku di bumi. Saat hari itu akhirnya lewat, aku kembali akan bagi-bagi duit berlimpah untuk orang satu kampung, dengan wajah lega dan semringah.
Setelah banyak tahun dan banyak rupiah, aku mendapatkan surat ajaib yang didambakan semua Tenglang negeri ini, yang bernama Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia. Ong Beng Seng resmi menjadi Bengki Sengki Ongharto. Hari-hari itu, orang akan mengagumimu dan takut padamu, atau pura-pura kagum dan takut padamu, jika kau dekat atau pura-pura dekat dengan orang-orang berpangkat, dan namamu semirip mungkin nama si Jenderal Banyak Senyum.
Aku menikahi Amei, teman masa kecilku, yang dulu disuruh bapaknya menjauhi keluargaku. Kini, bapak Amei sudah mati, dan ibunya tidak kuasa menolak uang tetek dariku yang dibungkus dalam angpauw tebal. Satu lagi dendamku terbalaskan.
Pernikahanku dan Amei berlangsung meriah dengan adat Cio Tao. Kami berdua mengenakan baju pengantin Pao. Aku memakai baju hitam dan topi tudung berwarna merah. Amei memakai baju merah dan cadar pengantin. Kami menyembah di meja samkai, lalu menghaturkan sembah pada Tian Gong di kelenteng, setelah itu kami disuapi dua belas mangkuk makanan yang membuat Amei ingin muntah.
Pesta sesungguhnya baru mulai setelah itu. Kusewa rumah kawin termegah di Sewan selama tujuh malam. Setiap malam tentu saja harus ada pertunjukan Gambang Kromong yang memainkan lagu Dayung Sampan dan Sie Jin Kui Hwe Ke[1]. Puncak acara yang paling ditunggu para tamu adalah goyangan para penari Cokek berbedak tebal, bergincu merah cabe, dan berpantat semok.
Aku punya dua anak yang sangat kusayangi. Semua kunaftahi dengan layak. Dengan surat sakti yang kupunya, aku berharap anak-anakku bisa sekolah. Aku berharap, anak-anak perempuanku tidak harus kupukuli setengah mati karena jual diri di Mangga Besar, dan jika aku punya anak lelaki kelak, dia tidak harus menjual obat ngaceng murahan. Meski, di sekolah, mereka sudah pasti tidak diajarkan Ji Kauw dan sembahyang pada leluhur.
Kendaraan yang membawaku terasa mulai melambat. Teringat olehku percakapan dengan roh tanpa wajah yang selalu mengikutiku, yang kembali datang di suatu malam berhujan. Saat itu aku terpar bersimbah darah di aspal. Tubuh dan wajahku hancur dihajar lima preman Pasar Lama bersenjata pentungan dan belati, yang merampas uang makanku yang diperoleh dengan susah payah.
Saat itu aku sudah berada di perbatasan dua dunia, dengan tulang hidung yang patah, dua mata sipit yang semakin tak terlihat, dan enam gigi yang tanggal. Dadaku hancur disodok pentungan dan setiap tarikan napas adalah siksaan luar biasa untuk paru-paruku. Perutku selalu perih karena jarang diisi makanan. Namun, bukan itu masalah perutku kali itu. Darah mengucur deras dari lubang tusukan belati pada pinggangku. Aku menggigil kedinginan saat darahku hampir habis. Aku yakin akan segera mati dalam tarikan napas berikutnya, saat si roh tanpa wajah bersimpuh dekat kepalaku.
“Lihat apa yang mereka lakukan padamu,” ujar roh itu perlahan.
Aku melirik, terlalu lemah untuk menjawab.