Malam ke-15 Bulan Ke-Tujuh Imlek. Puncak Chit-Gwee-Pua.
Sejak matahari terbenam, langit Tangerang bagai digayuti kain hitam pekat yang lembap dan berat. Angin malam bertiup membawa hawa dingin yang tak wajar, menusuk hingga ke sumsum tulang. Pasar Lama malam ini mendadak lengang bagai kota mati. Toko-toko menutup rapat pintunya jauh lebih awal; tidak ada lagi gelak tawa di kedai-kedai kopi. Semua orang tahu, malam ini adalah puncak ketika gerbang dunia orang mati dibuka lebar-lebar dan jutaan arwah merayap turun ke bumi.
Aku mengayuh sepedaku dengan kaki gemetaran. Pengakuan Ong Beng Seng—Si Naga Hijau yang ternyata adalah Engkongku—masih bergema di kepala. Namun malam ini, aku tidak tahu arwah siapa lagi yang akan hadir di hadapanku. Cerita kematian atau rahasia apa lagi yang menungguku di tempat ini?
Dari keremangan lorong luar dekat pilar batu, sosok gelap yang selalu mengawasiku sejak malam pertama kembali berdiri mematung, menatapku dari kegelapan.
Pelataran dipenuhi para pendoa lebih dari malam-malam yang lalu dan meja persembahan dipenuhi makanan bagi para hantu lapar. Asap hio menggumpal begitu tebal memenuhi seluruh kelenteng. Sosok raksasa Da Shi Ye—Sang Raja Hantu— masih berdiri tinggi jangkung dengan wajah taring kertasnya yang menyeringai mengancam di bawah pendar merah lampion.
Aku melangkah masuk ke dalam ruang altar utama dengan langkah berat. Tanganku kembali menyambar tiga batang hio, membakarnya pada nyala api lilin merah raksasa, lalu menangkupkannya tegak di depan dada.
Kupejamkan mata rapat-rapat, membiarkan tiga batang hio di tanganku menjadi jembatan untuk ditarik masuk ke dalam ketidaksadaran gaib di mana aku tidak berkuasa atas jiwa dan tubuhku.
Seketika, keriuhan ratusan pendoa di klenteng lenyap.
Aroma dupa lenyap, berganti hawa dingin yang menggetarkan dada. Selapis pendar kebiruan yang redup menyelimuti ruang gaib. Di hadapanku, hadir sesosok jiwa perempuan muda bergaun kusam. Wajahnya didera duka yang teramat dalam, dan dari hembusan napasnya, menguar paduan yang aneh sekaligus mengerikan—aroma lembut minyak bayi yang bercampur dengan bau pahit menyengat dari racun serangga.
“Kamu dinamai siapa?”Itulah kata-kata pertamanya padaku, tanpa mengeluarkan suara, sebagaimana semua arwah lain yang datang padaku. “Kamu dinamai siapa”, bukan “Kamu siapa” atau “Siapa namamu?” Seolah dia tau siapa aku, hanya ingin tahu namaku.
“A…aku Ke.. Ken,” jawabku terbata.
Mata perempuan itu menatap lurus, menusuk masuk ke dalam kedalaman batin dan jiwaku. Saat pasang mata itu menatapku, kilasan ingatan perempuan itu mendadak hadir dan membayang jelas di dalam kepalaku.
Kulihat dua anak perempuan kembar yang tumbuh di sebuah rumah sederhana di Jakarta, tempat keluarga mereka mengungsi setelah kehilangan sang kepala keluarga.
“Su Yin, Su Mei, ayo cepat habiskan makanan kalian,” kata seorang perempuan muda, ibu mereka. Di atas meja altar keluarga, potret wajah tersenyum yang langsung kukenali sebagai Engkong Ong Beng Seng tergantung membisu di balik kepulan asap hio, seolah menjaga dan mengawasi kedua putrinya.
Su Yin dan Su Mei bagai satu jiwa yang berada dalam dua raga. Mereka tidur di satu kamar yang sama sejak kecil; Su Yin di atas ranjang berseprei merah jambu, Su Mei di atas ranjang berseprei kuning. Mereka saling bersandar, bertukar cerita, dan tertawa bersama, salaing mengerti tanpa perlu banyak kata-kata.
Lalu, gambar bergerak menuju masa-masa yang sulit.
Krisis ekonomi menghantam negeri. Di lorong-lorong gang dan sudut jalanan, pemuda-pemuda menganggur berkumpul dengan wajah muram dan mata beringas. Toko-toko sepi dan banyak yang tutup. Rakyat tak sanggup membeli makanan seperti biasa. Demonstrasi di mana-mana. Rasa saling curiga merayap pelan di tengah masyarakat. Udara Jakarta dan sekitarnya makin hari makin memanas oleh gelisah dan ketakutan yang tertahan. Tetangga mereka yang beraneka suku, yang sebelumnya selalu menyapa ramah, hari-hari itu tampak memandang dengan curiga pada mereka dan orang-orang yang “kelihatan berbeda” seperti mereka.
Hingga tibalah suatu Rabu siang. Kalender di dinding menunjukkan tanggal 13 Mei.