CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #14

Arwah-arwah Kesepian

“Ma… Mama?”

Kata itu lolos begitu saja dari suara batinku.

“Setelah sekian waktu dalam kehampaan yang abadi, akhirnya aku mendengar anakku memanggilku Mama…”Suara batin Su Yin mengalun begitu lembut, bergetar renyah diselingi tawa haru yang membumbung tinggi ke udara. Setiap kata yang diucapkannya bergetar bagaikan alunan musik yang membebaskan seluruh jiwanya dari rantai dendam dan kepahitan masa lalu. Di saat itu juga, udara di sekelilingku dipenuhi keharuman minyak telon bayi yang teramat hangat dan menentramkan—sebuah tanda bahwa rindu seorang ibu telah tuntas terbalas, dan jiwanya telah menemukan kedamaian yang sejati.

Namun, seketika kemudian, semuanya berubah. Di hadapanku, pendar kebiruan itu kembali redup di ruang gaib dan mendadak bergetar hebat. Desah napas perempuan di depanku yang tadinya sarat kebahagiaan perlahan berubah menjadi erangan rendah, penuh dengan rasa menderita yang membeku dan keputusasaan yang merayap.

“Ken… anakku…” bisik Su Yin. Suaranya tidak lagi terdengar lembut. Nada bicaranya mendayu-dayu, merayu dengan getaran dingin yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri tegak. “Ikut Mama, Ken… Di sini dingin… Sepi… Gelap… Mama sendirian di sana, Ken. Tidak ada yang menemani Mama…”

Ia melangkah satu pijakan mendekat padaku. Namun, tatkala aku tertegun menatap matanya, kehangatan jiwa seorang ibu yang beberapa saat lalu terbayang mendadak sirna tanpa sisa.

Parasnya mulai berubah secara mengerikan di bawah pendar kebiruan yang kian meredup. Kulit kebiruannya mengerut layu, terkelupas bagai kertas basah yang membusuk. Pembuluh darah hitam menjalar hebat bagai jejaring akar beracun dari leher menembus pipi, pelipis, hingga melingkari lingkaran matanya. Dari sudut bibirnya yang kehitaman serta lubang hidungnya, cairan busuk racun serangga bercampur darah kental membual keluar, menetes perlahan mengaliri gaun kusamnya yang koyak.

Matanya yang merah membara melotot lebar tanpa kelopak yang utuh, memancarkan pendar kegelapan yang penuh dengki, rasa iri, dan keputusasaan yang tak pernah terobati.

“Ikut Mama, Ken! Biar kita sama-sama… Kau tidak tahu betapa mengerikannya di sana! Kau harus ikut Mama!” jeritnya. Suaranya melengking tinggi, menembus tempurung kepala dan menusuk-nusuk gendang telingaku!

Aroma minyak bayi yang tadi sempat tercium lenyap. Udara di sekelilingku berubah pekat dan menyesakkan oleh bau busuk muntahan, hanyir darah, dan uap pahit racun serangga yang seolah mengikis dinding-dinding paru-paruku.

Lalu, di balik bayangan Su Yin yang kian menghitam, ruang gaib itu mendadak menjadi sangat sesak.

Bermunculan sosok-sosok arwah lain. Penampakan mereka teramat mengerikan dan bervariasi dalam siksaan abadi. Ada sosok lelaki dengan lehernya yang tertekuk patah dan lidah menjulur kebiruan, masih melingkar bekas jeratan tambang yang menghitam di kulitnya; ada sosok perempuan bergaun kusam dengan tubuh yang remuk tak beraturan bekas hantaman tanah dari ketinggian; dan ada sosok-sosok tanpa wajah utuh yang terus-menerus memuntahkan busa beracun dari tenggorokan mereka yang koyak.

Di tengah cengkeraman makhluk-makhluk gelap itu, teringat olehku pesan yang pernah diucapkan sesosok makhluk padaku:

“Hidupmu tidak akan mudah, Ken. Bagaimanapun pahitnya hidupmu kelak, jauhi niat untuk mengakhiri hidupmu. Orang yang mati bunuh diri akan ditolak langit dan bumi. Tidak ada yang sendirian saat bunuh diri. Selalu ada arwah-arwah yang memaksa, membujuk, menyeretnya ke dunia mereka. Arwah-arwah kesepian yang gentayangan karena mereka sendiri mati bunuh diri.”

Mereka yang saat ini datang kepadaku rupanya adalah jiwa-jiwa yang ditolak oleh langit dan oleh bumi, yang terperangkap dalam lingkaran dingin tanpa awal dan akhir.

 Seketika, mereka merangsek maju dan mengepungku dari segala penjuru. Tangan-tangan mereka yang kurus, kering, dingin bagai es, dan berkuku kehitaman terulur meraih tubuhku. Cengkeraman jemari gaib mereka di bahu, lengan, dan leherku menghantarkan hawa membeku yang seketika melumpuhkan seluruh persendian dan aliran darahku.

Arwah-arwah itu merayu dengan bisikan-bisikan sumbang, meratap pedih, lalu meneriakkan tuntutan atas nyawaku! Setiap tarikan dan cakaran tangan mereka seolah hendak mencabut jiwaku dari raga, menyeretku masuk ke dalam lubang hitam yang tak berdasar.

Di tengah kepungan massa arwah yang kalap itu, Su Yin merangsek paling depan. Wajahnya yang hancur oleh racun menyeringai lebar, matanya memancarkan kombinasi rasa haru yang rusak, kemurkaan yang dahsyat, serta rasa iri yang tak terobati.

“MAMA TAKUT, KEN! SEPI! GELAP! DINGIN!” jerit Su Yin, suaranya meliuk-liuk antara tangisan histeris dan raungan keputusasaan. “Kenapa Su Mei bisa selamat dan hidup utuh, sementara Mama harus hancur begini?! Kenapa kamu di sini, sementara Mama membusuk sendirian di sana?! IKUT MAMA, KEN!”

Lihat selengkapnya