CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #15

ONG Ie Ken

Pagi harinya, aku duduk di ruang Kepala Sekolah SMA kami di Sewan. Pak Asep, Kepala Sekolah kami yang terkenal tegas dan bersuara lantang, membolak balik lembar-lembar kertas di meja kayu. Di sampingku, Papa Lim dan Mama Tan duduk serba salah. Punggung Papa yang biasanya tegap saat mengangkut karung pakan babi kini membungkuk dalam, sementara jemari Mama yang keriput terus meremas ujung selendangnya, cemas luar biasa kalau aku bakal dikeluarkan dari sekolah.

"Ken!" kata Pak Suryo dengan nada tinggi. "Kamu ini bolos lima hari berturut-turut tanpa surat, tanpa kabar! Sebenarnya ada apa?! Apa kamu tidak tahu bahwa orang sekolah itu punya aturan??

Sebelum aku menjawab, Papa Lim keburu angkat bicara. Suaranya parau dan bergetar, "Pak Asep, tolong maapin anak saya... Jangan dikeluarkan, Pak... Tahun depan kan seharusnya sudah lulus."

Pak Asep menoleh pada Papa Lim lalu mengangguk hormat. Lalu dia menatapku, “Seharusnya ya kamu dikeluarkan. Tapi karena kamu sudah kelas 12 dan harus menghadapi ujian, kamu diskors dua minggu dan wajib bersih-bersih seluruh lapangan sekolah!"

Skors dua minggu! Bukan perkara ringan. Berarti aku harus tertinggal pelajaran selama tiga minggu, termasuk seminggu ini waktuku membolos. Aku harus mencatat pelajaran, belajar sendiri lalu mengikuti serangkaian ulangan susulan!

Di luar dugaan semua orang, aku justru tersenyum. Sebuah senyuman tipis yang sangat tenang dan lega. Pak Asep berhenti bicara, matanya membelalak heran, terlihat amat marah. Papa Lim dan Mama Tan menoleh menatapku dengan tatapan tak percaya, seolah anak mereka baru saja kehilangan akal sehatnya.

Mereka tidak akan pernah mengerti. Di dalam hatiku, aku membatin dengan senyum masih tersungging dan dada yang begitu lapang: Siksaan gaib, raungan arwah penasaran, dan kenyataan mengerikan di malam Chit Gwee Pua, hampir diseret ke dunia orang mati sudah kulalui dengan selamat. Yang terberat dan paling berdarah dalam hidupku sejauh ini sudah selesai, dan aku tidak berharap akan bertemu lagi dengan urusan serupa. Masalahku sekarang hanyalah urusan sekolah biasa ... masalah yang wajar dialami anak-anak seusiaku.

"Baik, Pak Asep. Saya mohon maaf sudah melanggar peraturan sekolah. Saya terima dan siap jalani semua hukumannya," kataku tenang. Kegusaran di wajah Pak Asep seketika hilang. Papa, Mama, dan aku pamit pulang.

Dalam perjalanan dan sesampainya di rumah kami di Sewan, suasana mendadak hening. Rumah tua kami yang biasanya berdenting oleh suara sendok garpu di piring siang ini terasa membisu. Papa Lim berjalan lunglai ke dapur, menuangkan air panas ke cangkir kalengnya, membuat teh, lalu lama duduk tertegun tanpa menyentuh tehnya sampai dingin. Mama Tan duduk di sudut meja makan, diam-diam menyapu air mata yang menetes ke pipinya. Mungkin merasa sedih dan gagal mendidikku.

“Ada apa sebenarnya, Ken? Kamu ke mana aja semingguan ini?” tanya Mama. Pertanyaan ulangan yang sudah disampaikan sejak tadi, dan hanya kujawab, “Nanti Ken jawab setelah pulang dari sekolah.”

Aku merogoh kantong celanaku, mengeluarkan kertas resep tua kusam yang sudah beberapa hari ini selalu kubawa—kertas resep tulisan Bidan Ang Kim Nio. Aku melangkah pelan, lalu meletakkannya tepat di hadapan Papa dan Mama.

Mata Mama tertuju pada kertas itu, lalu meraih kaca mata baca dan membacanya. Seketika wajahnya pucat pasi.

"Ken... kamu..." suara Mama Tan bergetar parau, tangisnya sepertinya segera akan pecah.

"Aku nggak mau sembunyi-sembunyi lagi, Pa, Ma," kataku jujur dengan suara yang bergetar menahan haru. "Kertas resep ini udah ada di kantongku dari kemarin-kemarin. Dan selama hari-hari kemarin, aku udah cari tahu semuanya. Aku sudah tahu siapa ibu kandungku, penderitaannya, dan dari mana aku berasal."

Lihat selengkapnya