Berbekal ancer-ancer alamat yang dituliskan Engko Suwanta, aku menumpangi kereta menuju kawasan Jakarta Barat. Alamat itu membawaku ke sebuah rumah tua berlantai dua bertuliskan: Rumah Singgah Kasih Ibu.
Seorang wanita penjaga memanggil Ayi Su Mei dari balik teras. Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar menuruni tangga kayu. Sesosok perempuan menjelang setengah baya dengan rambut dipotong pendek dan pakaian bersahaja muncul di hadapanku seraya membawa nampan kecil berisi gelas teh hangat.
Begitu tatapannya tertaut pada keningku sejak awal kedatanganku, Su Mei mendadak membatu. Nampan di tangannya gemetaran hingga tutup gelas yang diangkatnya berdenting pelan. Ia melangkah gemetaran mendekatiku, menatap keningku tanpa berkedip.
"Kamu... kamu siapa, Nak?" suara Su Mei bergetar parau, menahan napas. "Kamu... kamu anak siapa?"
Aku menatap mata perempuan yang wajahnya begitu mirip dengan bayang gaib ibuku, hanya jauh lebih tua, lalu menjawab pelan namun mantap, "Saya anak Su Yin, Ayi. Namaku Ie Ken... Ong Ie Ken."
Mendengar nama itu dan pengakuanku, pertahanan batin Ayi Su Mei runtuh seketika. Tangisnya pecah hebat. Ia menyerbu maju merangkulku begitu erat hingga napasku sesak.
"Kamu... kamu anak Su Yin yang waktu bayi dibawa pergi, Nak?" rintih Su Mei terisak-isak di bahuku, memegangi kedua pipiku dengan jemarinya yang gemetaran dan menatap wajahku lekat-lekat. "Ayi nggak pernah menikah... Ayi nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kamu ini satu-satunya darah daging Su Yin, satu-satunya keluarga tersisa yang Ayi miliki!"
Aku ikut menangis, gemetar membalas pelukannya.
Su Mei mengajakku duduk di ruang tamu. Di teras dan sudut ruangan, aku melihat sendiri jejak-jejak ketabahan para perempuan yang ditolong Su Mei di rumah singgah itu. Ada Tari, gadis enam belas tahun asal Bogor yang diusir keluarganya karena diperkosa tetangganya sendiri, kini duduk menimang bayinya yang baru lahir dengan senyum tenang. Ada pula Rina, buruh pabrik yang menjadi korban pelecehan majikannya hingga trauma berat dan hampir mengakhiri hidupnya jika tak diselamatkan Su Mei. Balita-balita lucu yang berlarian di koridor—anak-anak tak berdosa yang lahir dari tragedi, namun kini tumbuh hangat dalam pelukan rumah singgah ini.
"Ayi mendedikasikan semua ini buat Su Yin, Nak..." tutur Su Mei lirih, matanya berkaca-kaca menatap anak-anak itu. "Setiap kali Ayi mengusap air mata perempuan-perempuan yang trauma di sini, Ayi merasa sedang merawat dan mengobati luka Su Yin. Bertahun-tahun dalam mimpi buruk Ayi, Su Yin selalu datang meratap, seolah menangis dan mempertanyakan nasibnya: 'Kenapa bukan aku yang di rumah dan kamu yang di luar rumah? Kenapa bukan kamu yang diperkosa?!' Bisikan itu menyiksa Ayi tiap malam, Ken... Ayi tidak ingin ada lagi perempuan yang bernasib tragis seperti kakak kembar Ayi."
Su Mei kemudian mengambil sebuah kotak kayu tua. Dengan tangan gemetaran, ia menyerahkan selembar foto kusam yang warnanya sudah menguning dimakan usia.
Dadaku serasa berhenti berdetak tatkala aku menatap foto itu. Di dalam lembaran kusam tersebut, duduk seorang perempuan muda yang teramat cantik. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak begitu rapuh didera penderitaan yang tak terbayangkan, hamil dan melahirkan di luar keinginannya di usia masih begitu remaja. Namun, di tengah seluruh kepahitan hidupnya, bibir gadis cantik itu mengukir sebuah senyuman yang teramat manis dan tulus tatkala kedua tangannya menggendong rapat sesosok bayi merah. Di kening bayi kecil itu, terlihat jelas tanda lahir kemerahan.
Air mataku menetes basah menimpa bingkai foto. Mama... Su Yin... Gadis muda yang dihancurkan oleh takdir ini ternyata sanggup memberikan senyuman paling indah di dunia menyambut kelahiranku.
"Awalnya Su Yin putus asa luar biasa, Ken," bisik Su Mei dengan suara parau. "Dia sempat memukuli perutnya sendiri, mencoba menggugurkan kamu karena malu, trauma, dan jijik dengan dirinya sendiri. Tapi begitu merasakan denyut kehidupanmu, naluri ibunya bangkit. Dia berjuang setengah mati mempertahankanmu di dalam kandungan sampai kamu lahir selamat."