Bulan kelima dalam penanggalan Imlek membawa hawa hangat ke bumi Tangerang. Bagi warga Tionghoa Benteng di sepanjang bantaran Kali Cisadane, ketibaan hari Go Gwee Go—tanggal lima bulan lima Imlek—selalu berarti satu hal: Pesta Peh Cun.
Pagi itu, kawasan Pasar Lama hingga bantaran dermaga Toa Pekong Air di tepi Kali Cisadane disesaki ribuan manusia. Udara dipenuhi harum gurih daun bambu pembungkus bakcang daging dan bakcang ketan manis (kue chang) bertali benang merah yang dikukus di dalam langseng-langseng raksasa di pinggir jalan. Lembaran-lembaran daun bambu yang direbus menghasilkan wangi khas yang menentramkan jiwa. Bendera warna-warni berkibar di sepanjang tanggul, sementara gema tabuhan tambur kayu dari atas perahu-perahu naga bersahut-sahutan membelah udara pagi.
Aku berjalan menyusuri tanggul bersama tiga kawan terbaikku: Aisyah yang anggun dengan kerudungnya, Akhmad yang tak berhenti mengunyah kue asinan Tangerang, dan Meyling yang heboh memegangi kamera saku.
Sorak-sorai penonton pecah tatkala perahu naga dari kontingen Tanah Gocap melaju bagaikan kilat di atas air Cisadane. Akhmad yang murah hati membelikan kami laksa Tangerang Mak Ncum yang berkuah santan kuning kental berserat kelapa sangrai, lengkap dengan mie tepung beras yang kenyal dan telur rebus. Kami menyantapnya bersila di atas rumput tanggul bersama bakcang gurih berisikan cincangan daging manis yang dibawakan Mama dari rumah, tentunya tidak pakai daging babi.
Tepat saat matahari mencapai puncak ulu hati—pukul dua belas siang tepat—suasana di tepi bantaran sungai mendadak riuh oleh tradisi paling unik di Hari Peh Cun: mendirikan telur ayam mentah.
"Ayo, Ken, Syah! Coba bikin telurnya berdiri! Cuma pas tengah hari Peh Cun gaya gravitasi bumi berada di titik sejajar!" seru Meyling membagikan telur-telur ayam mentah dari kantong plastiknya.
Di sepanjang lantai semen tanggul, puluhan orang sibuk memegang telur dengan hati-hati. Aisyah dan Akhmad mencoba menyeimbangkan telur mereka. Dalam hitungan detik, telur Aisyah dan Akhmad berhasil berdiri tegap di atas semen rata. Namun, sial bagiku. Berulang kali kucoba menyeimbangkan telurku, ujungnya tetap bergulir dan roboh kembali ke tanah. Jemariku gemetaran, dahiku berkeringat, tetapi telur itu tetap tak mau berdiri. Akhmad dan Meyling tertawa terbahak-bahak melihat tingkahku. "Aduh, Ken! Katanya anak Sewan paling jempolan, masa berdiriin telur satu saja kalah sama Aisyah!" ledek Akhmad terkekeh.
Aku tertawa lebar, akhirnya menyerah dan membiarkan telur itu tergeletak di tanah. Di dalam hati, aku tersenyum menggeleng pelan. Mata batinku mungkin bisa melihat menembus alam gaib dan berkomunikasi dengan masa lalu, tapi kemampuan itu ternyata tak menjadikanku manusia super yang selalu bisa apa saja. Untuk hal sepele mendirikan telur ayam di siang Peh Cun pun aku bisa gagal total. Kesadaran itu justru terasa begitu menenangkan—membawa kakiku kembali memijak bumi sebagai remaja biasa.
Menjelang sore, keriuhan berpindah ke panggung pertunjukan rakyat yang berdiri kokoh di dekat Klenteng Boen Tek Bio. Suara melengking tehyan beradu dengan gesekan kongahyan berlaras manis, disusul dentang bilah-bilah perunggu gambang dan ketukan ning-nong krecek yang rancak. Musik Gambang Kromong khas Tionghoa Benteng mulai membakar suasana.
Di atas panggung kayu berselimut kain merah, dua orang penari Cokek bergaun kebaya selendang terang meliuk-liuk anggun. Jemari mereka melentik, menyebarkan harum bedak dingin seraya menyanyikan bait-bait lagu "Jali-Jali" dan "Centik Manis" dan tentunya “Nonton Peh Cun” dengan cengkok Betawi-Tionghoa yang khas dan jenaka.
“Waktu Peh Cun, Tangerang rame sekali..Nonton Peh Cun di kali Tangerang...”
"Ayo, ngibing! Jangan cuma melotot di bawah!" teriak seorang panitia tua berikat kepala merah seraya mengalungkan selendang kuning ke leher Akhmad.
Akhmad yang kocak tak sanggup menolak. Dengan muka polos tanpa rasa malu, ia maju ke depan panggung. Pinggulnya bergoyang patah-patah mengikuti ketukan kendang, tangannya melambai-lambai menirukan gerakan penari Cokek tetapi dengan gaya serudukan asal-asalan.
Meyling tertawa pingkal-pingkal sampai kameranya hampir terlepas, sementara Aisyah menutup mulut menahan tawa geli. Penonton di sekeliling panggung bersorak riuh bertepuk tangan melihat aksi konyol Akhmad. Panitia tua itu menarik lenganku, dan aku pun tak bisa menahan tawa untuk ikut melangkah maju. Kami berempat akhirnya ngibing melingkar bersama puluhan warga—Tionghoa, Betawi, Jawa, tua dan muda—saling melempar tawa dan menari ngibing meleburkan seluruh sekat perbedaan di bawah naungan musik rakyat yang hangat.
Di sela tawa dan alunan tehyan yang membubung tinggi, aku melangkah sejenak ke tepi tanggul sungai. Melalui mata batinku yang kini jernih dan damai, kulihat aliran Kali Cisadane memancarkan kilau hijau keemasan yang menenangkan—tidak ada lagi rintihan gaib, hanya doa dan derak tawa manusia yang merayakan hidup.