CHIT GWEE PUA

Petrus Setiawan
Chapter #18

EPILOG

EPILOG

Oleh: Ong Ie Ken

Kisahku hanyalah satu kelebat kecil dalam riwayat panjang orang-orang Tionghoa di bumi Nusantara. Sebagai keturunan dari kaum imigran yang melintasi Laut China Selatan berabad-abad lalu, perjalanan darah Tionghoa di negeri ini adalah sebuah balada tentang budaya, keringat, tangis, tawa, dan jejak-jejak darah yang berulang kali diuji oleh zaman.

Sejarah mencatat bahwa keberadaan kami di tanah ini bukanlah cerita kemarin sore. Ratusan tahun kami berakar, menanam harapan, dan melebur menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Nusantara. Namun, perjalanan panjang itu tidak pernah sunyi dari badai pasang surut yang getir.

Geger Pacinan 1740: Di bawah cengkeraman kolonial VOC di Batavia, ketegangan ekonomi dan prasangka kekuasaan meletus menjadi pembantaian massal yang mengerikan. Lebih dari sepuluh ribu jiwa orang Tionghoa tewas, sungai-sungai Kota Tua memerah oleh darah, dan ribuan orang terpaksa melarikan diri ke pedalaman Jawa—memicu perang yang membakar pulau ini selama bertahun-tahun. Dari puing-puing pembantaian itulah, sebagian dari leluhur kami bertahan hidup, membangun kembali benteng-benteng pertahanan dan pemukiman baru, termasuk di tepian Kali Cisadane yang kelak melahirkan komunitas Tionghoa Benteng. Cerita tentang Ong Tiauw Ki dalam cerita ini berupaya menghadirkan peristiwa yang amat jarang disebut dalam sejarah bangsa ini.

Lihat selengkapnya