Hujan tidak pernah benar-benar mengganggu Aksa.
Yang mengganggu adalah suara di dalam kepalanya. Suara yang selalu muncul setiap malam yang terlalu sunyi.
Apartemen itu gelap. Ia memang sengaja tidak menyalakan lampu. Cahaya kota dari balik jendela sudah cukup menerangi ruang tamu yang kosong dan hidupnya yang terasa sama kosongnya.
Di atas meja, sebuah buku tergeletak.
Sampulnya cokelat tua. Sudah kusam di bagian sudut. Seolah terlalu sering disentuh, terlalu lama disimpan.
Aksa tahu buku itu tidak berat. Tapi entah kenapa, malam ini terasa seperti mengangkat sesuatu yang jauh lebih dari sekadar kertas dan tinta.
Ia duduk perlahan. Menarik buku itu ke pangkuannya. Aromanya samar. Seperti cokelat. Aksa tertawa pelan.
“Masih aja,” gumamnya.
Tangannya berhenti beberapa detik di atas halaman pertama. Ia tahu isi buku itu. Ia tahu siapa yang menulisnya.
Tetap saja, Aksa membukanya.
Tulisan tangan itu menyapanya seperti seseorang yang tak pernah pergi.
Tulisan itu rapi, lembut dan sedikit miring ke kanan.
Tulisan Sanira.
"Untuk Aksa,
Kalau suatu hari kamu membaca ini… berarti aku sudah terlalu lelah menyimpan semuanya sendiri."