Chosen Again

Jiw April
Chapter #1

Undangan

Rumah tangga yang baru saja dibangun Inaya dalam waktu satu tahun, lambat-laun malah semakin terasa hambar.


Percakapannya bersama sang suami terasa singkat, hanya seperlunya saja. Bahkan keduanya sudah jarang tidur dan makan bersama. 


Sebenarnya apa yang salah? Berkali-kali Inaya bertanya, namun tak juga menemukan jawabannya. 


“Hpmu berdering …,” ucap Bagas, suami Inaya. Seketika Inaya yang sedang menonton TV menoleh pada ponsel yang ia letakkan di atas meja. 


Saking lamanya tak ada yang menghubunginya, Inaya sampai lupa dengan nada dering ponselnya sendiri. 


Inaya memperhatikan nomor yang muncul di layar ponselnya cukup lama. ‘Nomor yang tak dikenal’ membuatnya sempat ragu untuk menjawabnya, sampai suara Bagas kembali terdengar.


“Angkat saja! Siapa tahu penting,” katanya, tanpa menoleh ke arah Inaya. Sontak Inaya pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


“Halo.” terdengar suara yang tak asing di telinga Inaya, namun ia masih tak berani menebak. 


“Halo,” balas Inaya.


“Ah, syukurlah nomormu masih yang ini,” ucap seseorang di seberang telepon. 


“Ini aku, Devia. Bagaimana kabarmu, Nay?” tanyanya.  

“Baik, kabarku baik. Bagaimana kabarmu, De?” balas Inaya lagi.


Ternyata Devia. Teman semasa SMA Inaya.


“Kabarku juga baik, dan aku punya kabar baik untukmu ….”


Mendengar itu, Inaya langsung bertanya, “Apa itu?”


“Sebelumnya, sekarang kau tinggal di mana?” Devia kembali bertanya. 


“Aku dan Bagas masih tinggal di kontrakan yang ada di Jalan Anggrek.”


“Aku ingin main kesana, boleh kan?”

"Tentu saja,” jawab Inaya cepat.


"Kalau begitu, aku kabari lagi nanti ya.”


Telepon pun berakhir. Inaya diam-diam melihat ke arah Bagas, normalnya ia akan bertanya ‘Siapa yang telepon?’, namun nihil. Bagas sama sekali tidak terlihat peduli.


***


Dua hari kemudian, Devia datang menemui Inaya.


“Ya ampun, Naya! Kau kurusan banget!” serunya sambil memeluk Inaya dengan cukup erat di teras rumah.


“Iya nih, padahal aku nggak diet loh,” jawab Inaya lalu tertawa kecil.


“Ayo masuk De!" ajak Inaya, Devia pun mengikuti langkah Inaya menuju kontrakannya yang cukup luas, dengan ruang TV, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur.


Keduanya duduk sambil menikmati es teh yang baru saja disuguhkan Inaya. Tiba-tiba Devia mengeluarkan sebuah amplop berwarna krem dari tasnya.


“Ini, undangan pernikahanku, Nay. Dua minggu lagi aku mau nikah. Jangan sampe nggak datang ya, dan ajak Mas Bagas juga!”


Inaya membuka amplop itu perlahan. Foto Devia dan Hidan tersenyum manis di atas kertas tebal itu.


“Selamat ya, De. Akhirnya setelah nunggu berbulan-bulan, Hidan melamar kamu juga.”


“Iya nih, siapa sangka,” jawab Devia sambil tersipu. “Makanya, datang ya. Udah lama kita nggak ketemu semua teman SMA, siapa tahu pernikahanku nanti jadi ajang reuni,” sambungnya.


“Iya, aku usahain datang ya,” ucap Inaya lalu mengambil gelas bagiannya dan meminumnya.


“Nay, soal aku yang bilang kamu kurusan tadi, aku serius loh. Kamu kenapa sih? Apa lagi ada masalah?” Devia mulai menelisik.


Inaya pun tertunduk dan menyimpan kembali gelasnya perlahan, lalu menghela napas cukup panjang.


“Rumah tanggaku sama Mas Bagas mulai hambar, De. Dia jadi dingin. Mungkin … karena aku belum bisa ngasih dia keturunan.” akhirnya Inaya mulai bercerita.


Devia seketika menggenggam tangan Inaya.


“Nay, hambar setelah berhubungan lama itu wajar banget. Apa lagi kalian udah pacaran lama sebelum nikah. Dan soal belum punya anak, itu bukan salah kamu. Jangan terlalu dipikirin, selagi dia nggak pernah ngungkit itu.”


Inaya kembali menatap Devia dan mengangguk pelan.


“Iya sih, Mas Bagas nggak pernah ungkit masalah belum punya keturunan. Akunya aja yang terlalu negative thinking.”


“Ya udah, bebasin pikiranmu. Jangan mikir macam-macam, dan jangan lupa banyakin doa juga,” ucap Devia sambil tersenyum.


Sebelum pulang, untuk sekadar melepas rindu dan mengabadikan momen. Inaya dan Devia foto-foto berdua di teras rumah. Sengaja agar hasil foto lebih bagus karena di luar lebih terang.


Upload ya, Nay. Biar tersimpan di akun sosmedmu,” ucap Devia.


Inaya pun mengunggah foto itu ke Instagramnya, tanpa lupa men-tag akun Devia.


***


Malamnya, setelah makan malam. Inaya merebahkan diri di kamarnya, sendirian. Ia membuka ponselnya, yang ternyata dibanjiri notifikasi. Dengan segera Inaya membukanya.


Ternyata, fotonya bersama Devia yang ia upload tadi ramai mendapatkan sebuah like dan komentar.


Aku mau yang pakai baju merah.


Lihat selengkapnya