Bahan makanan di rumah mulai habis, Inaya pun memutuskan untuk belanja bulanan. Tapi lagi-lagi ia harus belanja sendiri, karena Bagas ada kerjaan, padahal biasanya Sabtu dia libur.
Supermarket di Jalan Mawar selalu ramai di akhir pekan. Inaya mendorong troli pelan-pelan, memilih sayur, bumbu dan kebutuhan dapur lainnya.
“Ini nggak kebanyakan buat dua orang?” suara itu membuat Inaya menoleh.
Reyzan berdiri di depannya, mengenakan kaos abu-abu dan topi baseball. Di troli sebelahnya ada beberapa bahan makanan mentah.
“Rey?” Inaya kaget, lalu balik bertanya, “Kamu belanja juga?”
“Iya, kulkas kosong. Kebetulan ketemu kamu. Mau kubantu?”
Inaya ragu sebentar, lalu mengangguk. Penolakan rasanya sia-sia. Reyzan memang sudah dari dulu suka membantu tanpa diminta.
Mereka belanja bersama. Reyzan memilihkan buah yang matang, mengingatkan Inaya kalau tomat yang ia ambil sudah terlalu lembek. Hal-hal kecil yang dulu sering ia lakukan saat mereka masih pacaran.
Selesai belanja dan membayar di kasir, Reyzan menawarkan untuk mengantar. Inaya yang merasa tidak enak, lagi-lagi menolak.
“Ngapain nolak? Lagian kamu bawa banyak.” mendengar itu, Inaya akhirnya mengiyakan.
Sepanjang jalan, mereka ngobrol ringan. Tidak ada pembahasan berat, hanya soal harga cabai yang naik dan film lama yang dulu pernah mereka tonton bersama.
Sampai di depan rumah, Inaya kaget melihat Bagas sudah ada di teras. Ia duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.
“Kok kamu nggak temani istrimu belanja?” tanya Reyzan sambil menurunkan kantong belanjaan dari motornya.
Bagas menatap mereka sekilas, “Dia udah biasa sendiri. Lagian juga belanjanya dekat dan nggak banyak.”
Reyzan diam. Ia menahan diri untuk tidak berkomentar lebih jauh. Ia tahu, ini bukan urusannya.
“Kamu nggak kerja, Mas?” tanya Reyzan, mencoba mencairkan suasana.
“Nggak, bosnya lagi ke luar negeri,” jawab Bagas, “Kamu nggak kerja juga, Rey?”
“Kebetulan aku buka bengkel sendiri, jadi udah di-handle sama karyawan.”
“Oh, enak banget ya.”
“Ya, ada enak ada nggak enaknya juga, Mas. Bukan cuma untung, ruginya juga ditanggung pribadi.”
Obrolan terhenti saat Inaya keluar membawa nampan berisi dua gelas kopi dan beberapa potong kue.
“Makasih, Nay,” ucap Reyzan.
“Iya, sama-sama,” balas Inaya singkat.
Bagas hanya mengangguk pelan, Inaya berlalu masuk ke dalam tanpa banyak bicara.
Begitu suasana kembali sepi, Reyzan menatap Bagas lekat. “Kamu kok kesannya dingin banget sama istrimu?”
Bagas menghela napas, “Iya, nggak tahu lagi deh. Udah males. Tidur juga udah nggak seranjang.”
“Eh? Gimana mau punya turunan kalau ikhtiarnya kendor?”
“Nggak kendor juga. Kalau mau ya aku ke kamar lah, Rey. Kadang dia yang kusuruh nyamperin ke sofa.”
Reyzan mengerutkan dahi. “Dia itu istrimu. Perlakukan dengan baik!”
“Itu juga udah baik, menurutku, Rey. Lagian kamu tahu apa sih? Nikah aja belum.”
Reyzan menatapnya tajam, “Aku mending nggak nikah deh, dari pada harus memperlakukan anak orang kayak gitu.”
Bagas malah tertawa, “Iya deh, Rey. Mending jangan nikah dulu. Rumah tangga itu nggak selalu enak kok.”
Reyzan tidak menggubrisnya lagi. Ia meneguk kopi, lalu berpamitan.
“Aku pulang dulu ya, titip salam buat Inaya.”
Bagas hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
***
Malamnya, suasana di rumah itu kembali seperti biasa. Dingin. Inaya duduk di ruang tamu, fokus menonton drama Korea yang suaranya hampir tidak terdengar. Bagas duduk di samping Inaya, namun matanya tidak lepas dari layar ponselnya.
Inaya beberapa kali melirik. Ia ingin mengajak bicara, tapi malas memulai duluan. Lagi pula, untuk apa? Jawabannya pasti “iya” atau “nggak” saja.
Lama-lama Inaya jengah. Ia pun mematikan TV dan masuk ke kamar. Bagas tetap cuek, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di kamar, Inaya merebahkan diri. Ia membuka Instagram, lalu beralih ke DM. Ada pesan masuk dari Reyzan.
Gila banget suamimu. Kok bisa sih kamu tahan sama dia?
Inaya membaca pesan itu sambil tersenyum kecut. Ia hanya membalas dengan emot ketawa.
Kamu ya ....
Ya udahlah, kamu kok yang jalanin.
Tapi kalau ada apa-apa cerita ya.
Inaya tidak membalas lagi. Ia meletakkan ponsel dan menatap langit-langit kamar.
“Dia makin dingin,” gumamnya pelan, “Dia lebih fokus ke ponselnya mulu.”