Chosen Again

Jiw April
Chapter #3

Kedatangan Mertua

Saat senja mulai mewarnai langit, terlihat Inaya masih sibuk di dapurnya. Wajan di atas kompor mendesis, tumisan buncis bercampur aroma bawang putih mulai tercium. 


Baru saja Inaya selesai menata tumis buatannya di piring, suara langkah Bagas terdengar dari arah ruang tamu.


Bagas menghampirinya dengan handuk yang melingkar di leher, wajahnya datar seperti biasa.


“Nay, kamu masaknya agak banyakan ya. Mamaku mau datang.”


Mendengar itu, seketika gerakan tangan Inaya terhenti. Ia menatap Bagas dan bertanya “Sekarang?”


“Iya, bentar lagi ke sini katanya,” jawab Bagas.


Inaya mengerutkan dahi, “Kok dadakan banget ya, Mas? Apa ada hal penting?”


“Nggak ada. Cuma pengen aja katanya. Udah lama juga kan Mamaku nggak ke sini.”


Inaya mengangguk pelan. Pasrah.


“Ya udah.”

“Iya,” balas Bagas, lalu berlalu ke kamar mandi.


Inaya melanjutkan memasak. Tapi hatinya jadi tidak tenang. Ia buru-buru menambah lauk: ayam goreng, telur dadar dan sambal.


Setelah semua siap di meja makan, Bagas juga sudah berganti baju. Ia duduk di sofa, menatap TV yang menyala tapi matanya tetap fokus ke ponsel dengan jarinya yang sibuk mengetik.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi.


Inaya langsung berlari kecil hendak membukakan pintu, lalu ia menyambut mertuanya dengan senyuman.


Mertua berdiri di teras. Tangan kosong, seperti biasa. Wajahnya judes, garis di sudut bibirnya turun. Tapi Inaya tetap berusaha ramah.


“Mama, apa kabar, Ma?” tanya Inaya sambil mengulurkan tangannya, menyalami mama mertuanya.


“Baik,” jawabnya singkat, sambil buru-buru menarik tangannya yang masih disentuh Inaya.


Inaya tak berkecil hati, ia sudah terbiasa.


“Diantar siapa, Ma?” tanya Inaya lagi.


“Papa.”  

“Papa-nya mana?” Inaya mendongak ke sisi kanan-kiri juga belakang mertuanya, namun tak menemukan siapapun.


“Langsung pulang lagi.” Inaya mengangguk, “Mama mau menginap?”


“Iya,” jawabnya sambil melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan.


Ia mengelilingi ruang tamu, tangannya mengelap permukaan lemari dengan jari. Ia mengernyit saat melihat debu tipis menempel di ujung jarinya.


“Nah, gini dong, bersihin. Kan kamu cuma di rumah aja. Jadi harus pastiin kalau rumah itu selalu bersih, bebas debu. Biar suamimu makin betah dan sehat,” ucapnya tanpa basa-basi.


Inaya menunduk, namun berusaha menanggapi dengan baik, “Iya, Ma.”

Lihat selengkapnya