Chosen Again

Jiw April
Chapter #4

Malam Minggu

Langit terlihat mendung, tidak ada senja yang menghiasinya. Hanya ada angin yang berhembus pelan, membawa bau hujan yang belum turun.


Mertua Inaya sudah siap di teras, koper kecil di samping kakinya. Bagas berdiri di sebelahnya, mengenakan kemeja biru tua yang jarang ia pakai. Rambutnya disisir rapi, parfumnya tercium sampai ke ruang tamu.


Inaya menatapnya dari balik pintu, jantungnya berdebar tidak karuan. Bagas tidak pernah dandan seperti itu kalau hanya sekadar mengantar mamanya. Biasanya hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek, dan sandal jepit saja.


Sebelum mertua pulang, Inaya sudah menyiapkan tiga bungkus makanan. Ayam semur, sambal goreng kentang, dan nasi putih. Ia memasukkannya ke kantong kresek hitam, mengikatnya dengan rapi.


“Ini, Ma, buat makan malam nanti. Buat Papa sama Bayu juga,” ucap Inaya sambil menyodorkan kresek itu, suaranya dilembutkan.


Mertua menerima tanpa ekspresi. Tidak ada “terima kasih”, tidak ada senyum. Hanya anggukan singkat.


Bagas melirik ke arah Inaya, “Aku antar Mama dulu,” pamitnya.


Inaya mengangguk, “Iya, hati-hati, Mas.”


Inaya berdiri di ambang pintu, terus memperhatikan keduanya yang berlalu. Sampai motor Bagas hilang di tikungan. Matanya yang sejak tadi menahan air mata akhirnya menangis juga.


Tapi ia tidak punya waktu untuk bersedih. Tangannya buru-buru meraih ponsel di atas meja. Jarinya gemetar saat mengetik nama Reyzan.


Kamu sibuk nggak?


Kebetulan Reyzan sedang online. Hingga tak butuh waktu lama ponsel Inaya langsung bergetar.


Reyzan menelepon.


“Kenapa, Nay?” suara Reyzan terdengar santai, tapi ada nada khawatir yang tersirat di dalamnya.


“Ini, Bagas barusan nganterin Mamanya pulang. Tapi kok kelihatan rapi banget. Aku malah jadi curiga.” di sela kecurigaannya, Inaya berusaha tertawa, "Haha, berlebihan banget ya aku?” tentu tawanya terdengar hambar.


Dan Reyzan dengan cepat menyadarinya.


“Nggak berlebihan. Itu namanya kamu sayang sama suami kamu. Yang saking sayangnya, kamu perhatiin dia banget, sampai hal sekecil itu pun kamu ngeh.”


Inaya menarik napas, “Jadi itu wajar, Rey?”


“Wajar lah, banget malah.”


Hening sebentar. Hanya suara napas mereka yang terdengar saling bersahutan. Sampai Reyzan bertanya, “Gimana soal pin?”


“Belum ada titik terang, Rey.”

“Ya udah, yang semangat cari kesempatannya, ya.”


“Haha, iya, pasti. Walau aku malah jadi takut sama hasilnya." lagi-lagi tawa Inaya terdengar hambar.

Lihat selengkapnya