Jam menunjukkan pukul 03.17 dini hari. Rumah sunyi, hanya suara kipas angin yang berputar pelan.
Inaya keluar kamar dengan langkah hati-hati. Niatnya mau ke kamar mandi, tapi langkahnya terhenti di ruang tamu.
Terlihat Bagas yang sudah tertidur lelap di sofa. Selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya. TV mati, tapi ponselnya masih menyala di atas meja. Layarnya menampilkan video TikTok yang masih berputar.
Kesempatan, pikir Inaya.
Matanya yang tadi masih mengantuk mendadak terbuka lebar. Ia berjalan pelan, mengambil ponsel Bagas.
Mungkin Bagas ketiduran sebelum mengembalikan ponselnya.
Inaya duduk di lantai. Ia langsung membuka aplikasi WhatsApp. Syukurlah, aplikasinya tidak dipin. Batinnya.
Walau tangannya mulai gemetar, Inaya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan.
Ia membuka tab chat. Daftar nama muncul. Beberapa teman kantor, grup keluarga, dan ... satu kontak yang cuma dinamai huruf “D”.
Sebelum membuka chat, Inaya geser ke tab panggilan. Seketika matanya terbelalak.
Banyak sekali panggilan keluar masuk dari “D” itu. Hampir setiap hari dan semua dilakukan saat Inaya sudah tidur.
D? Siapa D? tanya Inaya dalam hati.
Dengan jantung yang berdetak semakin kencang, Inaya memberanikan diri membuka chat dari “D” itu.
Tapi isinya mengecewakan. Hanya ada satu pesan yang muncul, dari kontak yang diberi nama “D” tersebut; “Oke”.
Oke? Oke apa? Inaya menggigit bibir.
Nggak mungkin tiba-tiba ngirim ‘oke’ tanpa ada apa-apa?
Kemungkinan besarnya, semua chat sebelumnya sudah dihapus. Bersih. Tidak ada jejak.
Dengan hati yang tak karuan, Inaya kembali meletakkan ponsel Bagas ke posisi semula. Ia ke kamar mandi seperti niat awalnya.
***
Esoknya. Seperti biasa, mereka sarapan bersama. Nasi goreng buatan Inaya, telur mata sapi setengah matang, namun kali ini Inaya membuat teh hangat tanpa gula.
Tidak ada percakapan, padahal ribuan pertanyaan memenuhi kepala Inaya.
Sampai akhirnya ia memberanikan diri. “Nggak biasanya, Mas, Minggu kamu kerja?”
Bagas menyuap nasi tanpa menoleh. “Iya, lagi ada kerjaan,” jawabnya singkat.
Setelah itu, hening lagi. Bagas menghabiskan makanannya cepat, berdiri, mengambil helm, lalu pergi tanpa ucapan “aku berangkat dulu” seperti dulu.
Inaya masih duduk di meja makan. Selera makannya hilang. Nasi di piringnya hanya berkurang tiga suap.