Chronicles of Aethelgard

Amir Ghozaly Prasetyo
Chapter #1

Chapter 1 Misteri Jam Perunggu di Tingkatan Bawah

Lonceng Perunggu Kota Alveria bergema tiga belas kali—penanda malam telah jatuh sepenuhnya di tingkatan paling bawah. Kota itu bertengger di atas jurang terjal yang diselimuti kabut abadi bercampur jelaga, tempat mesin-mesin uap kuno dan pipa-pipa kuningan yang berdecit berdampingan dengan sihir sisa-sisa peradaban tua. Di sudut bengkelnya yang sempit dan remang, Kaelen duduk bergeming di depan meja kerja kayunya yang berjelaga.

Jari-jarinya yang ternoda oli hitam memutar-mutar sebuah jam saku perunggu yang tak lagi berdetak. Benda itu bukan milik orang biasa, melainkan milik Maya—seorang juru catat muda dari Akademi Arsip Dirgantara yang mendadak hilang tiga hari lalu. Sebelum lenyap tanpa jejak, Maya meletakkan jam tersebut di atas meja kerja Kaelen dalam keheningan, hanya meninggalkan jejak bau minyak lavender yang samar.

"Kau masih meratapi benda mati itu, Kael?" suara serak memecah dentang lonceng kota yang mulai memudar.

Bram, lelaki tua berambut perak yang mengelola toko barang antik di seberang gang, melangkah masuk seraya menyulut pipa tembakaunya. Asap tebal meliuk-liuk di antara tumpukan roda gigi, pelat besi, dan lentera minyak yang berserakan di lantai bengkel.

Kaelen tidak mendongak. Tangannya yang terbiasa memegang perkakas tetap fokus mencongkel penutup belakang jam saku tersebut menggunakan obeng kecil berujung presisi. "Ini bukan benda mati biasa, Bram. Gigi jarumnya terbuat dari perak murni, tetapi inti penggeraknya tidak menggunakan per tembaga, melainkan pecahan kristal etherium yang sudah dimurnikan. Maya tidak mungkin meninggalkan benda semahal dan selangka ini tanpa alasan."

"Gadis itu berurusan dengan hal-hal yang tak seharusnya ditelusuri oleh rakyat tingkatan bawah," bisik Bram seraya mendekat. Matanya melirik liar ke arah pintu bengkel yang terbuka separuh, memandangi lorong besi bergoyang yang sepi. "Akademi Arsip sedang membersihkan dokumen-dokumen lama tentang Ekspedisi Katulistiwa Ketujuh. Siapa pun yang menyimpan peninggalan dari masa itu akan dianggap sebagai pengkhianat kota oleh Dewan Utama."

Klitik.

Mekanisme kecil di dalam jam saku itu akhirnya menyerah pada keahlian tangan Kaelen. Penutup perunggunya terlepas dengan bunyi getaran halus, memancarkan cahaya biru redup yang langsung menerangi ruang kerja yang gelap. Di dalam rongga jam, bukannya ada rangkaian roda gigi rumit seperti jam mekanis umumnya, melainkan sebuah gulungan kertas mika mikroskopis yang tergulung erat pada poros kristal etherium.

"Apa itu?" tanya Bram, suara beratnya mendadak bergetar hebat.

"Sesuatu yang membuat Maya diincar," jawab Kaelen pelan, napasnya tertahan.

Dengan kehati-hatian seorang mekanik, Kaelen mengambil pinset tipis dari kotak perkakasnya dan menarik gulungan kertas mika tersebut. Saat gulungan dibuka di atas meja, tertera koordinat peta yang digambar tangan dengan tinta taktil bercahaya, lengkap dengan sebuah stempel segel berbentuk sayap mekanis—lambang rahasia para Penjelajah Udara yang dianggap telah punah seratus tahun lalu dari sejarah Alveria.

"Ini bukan sekadar catatan," gumam Kaelen, menyipitkan mata membaca angka-angka koordinat yang seolah bergerak lambat. "Ini peta navigasi menuju benua melayang... Aethelgard."

Lihat selengkapnya