Keheningan Aethelgard terasa asing di telinga Kaelen. Tak ada raungan kompresor uap bertekanan tinggi, tak ada gemertak roda gigi raksasa, dan tak ada bau jelaga yang memekakkan hidung seperti di tingkatan bawah Kota Alveria. Di bawah pijakan boots kulitnya, rumput-rumput pendek bercahaya kebiruan meliuk lembut diusap angin malam, memancarkan pendar hangat yang menenangkan.
Namun, ketenangan benua melayang itu terusik oleh polusi buatan manusia. Di seberang lembah batu pualam, asap hitam pekat membumbung tinggi dari deretan rig penambangan uap milik Dewan Kota Alveria. Bau minyak bakar dan bau logam terpotong mulai meracuni udara murni Aethelgard.
"Lihat itu," bisik Maya seraya menurunkan teropong kuningan dari matanya. Jarinya menunjuk ke arah Kubah Arka—sebuah struktur kristal raksasa setinggi bukit yang dikelilingi oleh pilar-pilar batu berukir runik emas. "Mereka sudah menancapkan bor pasak di empat titik tumpuan inti. Jika bor kelima berhasil menembus jantung kristal di dalam kubah, struktur penyeimbang Aethelgard akan runtuh total."
Kaelen berlutut di samping Zephyr yang terbaring miring dengan baling-baling patah. Ia dengan cepat mengemas sisa perkakas penting ke dalam tas selempangnya, lalu menggenggam erat jam saku perunggu yang tak berhenti bergetar pelan.
"Bor-bor uap itu menggunakan katup pembuangan tekanan tipe-4," kata Kaelen, matanya menganalisis susunan mesin penambang musuh dari kejauhan. "Jika kita bisa memutus jalur distribusi oli hidroliknya, seluruh rig penambangan itu akan mati mendadak karena kelebihan beban."
"Bagus, tapi masalahnya bukan cuma bor itu, Kael," sahut Maya, menunjuk ke barikade depan Kubah Arka. "Pasukan Pengawal Pengabuk mendirikan pos pemeriksaan di sepanjang jalan setapak pualam. Kapal peronda utama mereka, The Leviathan, berlabuh tepat di atas kubah."
Kaelen mengangguk pelan. "Maka kita tidak boleh melewati jalan setapak. Mika peta ini menunjukkan ada lorong drainase energi purba di bawah akar-akar kristal. Lorong itu membawa kita langsung ke ruang kendali utama di dalam Kubah Arka."
Tanpa membuang waktu, keduanya bergerak menyusuri celah-celah tebing bercahaya, menghindari jangkauan sorotan lampu proyektor The Leviathan yang terus memindai area lembah. Setiap kali langkah kaki mereka mendekati struktur kristal utama, getaran jam saku di kantong Kaelen terasa kian hangat, seolah merespons detak jantung Aethelgard yang terancam.
Mereka tiba di sebuah celah sempit di balik reruntuhan tugu purba. Sebuah pintu batu melingkar yang terkunci rapat menghadang langkah mereka. Di tengah pintu tersebut, ukiran sayap mekanis melingkari sebuah ceruk berukuran persis seperti jam saku perunggu.
"Gunakan kuncinya, Kael," desak Maya, matanya sesekali melirik ke arah lembah saat gema dentuman bor uap musuh makin bertambah kencang.
Kaelen merogoh jam saku perunggu, lalu menekannya perlahan ke dalam ceruk batu.
Klik-klak.