Keheningan yang menyelimuti area pinggiran benua melayang terasa begitu asing sekaligus menenangkan. Tidak ada jeritan sirine pabrik, tidak ada bau minyak terbakar yang menusuk hidung, dan tidak ada jelaga hitam yang melapisi paru-paru seperti di tingkatan bawah Kota Alveria. Di bawah pijakan boots kulit Kaelen, hamparan rumput pendek berwarna biru keemasan memancarkan pendar hangat tiap kali tersentuh beban tubuhnya.
Beberapa ratus meter di belakang mereka, asap hitam tipis sisa ledakan sistem hidrolik bor milik Dewan Kota masih membumbung pelan ke udara malam yang jernih. Kapal perang The Leviathan telah mundur melintasi lautan awan, terdorong oleh gelombang magnetik murni yang dipancarkan oleh Kubah Arka saat altar berhasil diaktifkan kembali.
Kaelen duduk menyandar pada batang pohon mekanis—sebuah struktur unik berkayu petrifikasi dengan urat-urat logam tipis yang mengalirkan cairan etherium bening. Ia mengusap peluh bercampur oli yang mongering di dahinya. Di sampingnya, Maya sedang berlutut memandangi jam saku perunggu yang kini melekat pada sebuah dudukan batu portabel yang berhasil ia lepaskan dari altar.
"Jam ini tidak lagi berfungsi sebagai kunci pemancar," panggil Maya pelan. Suaranya sedikit serak akibat menghirup sisa asap uap di dalam kubah tadi. Tangannya menyentuh permukaan kaca jam yang kini menampilkan proyeksi tiga dimensi berupa gambar benua Aethelgard secara menyeluruh. "Perhatikan pola pendarannya, Kael. Ini bukan sekadar peta lokasi."
Kaelen mendekatkan wajahnya, menganalisis susunan garis pendar biru yang melayang beberapa sentimeter di atas telapak tangan Maya. Naluri mekaniknya langsung menangkap keteraturan frekuensi berkedip pada proyeksi tersebut.
"Proyeksi ini bertindak seperti diagram skematik," gumam Kaelen seraya merogoh tas selempangnya untuk mengambil obeng presisi dan mencatat koordinat pada buku catatannya. "Lihat simpul-simpul cahaya ini. Kubah Arka hanyalah satu dari tiga simpul penyeimbang beban utama. Ada dua simpul lain yang tersebar di wilayah utara dan barat benua ini."
"Artinya, keputusan Komandan Vane untuk mundur hanyalah taktik sementara," sambung Maya, matanya menajam. "Mereka tidak bisa lagi menguras matriks murni dari Kubah Arka, tetapi mereka bisa saja menyerang dua simpul lainnya untuk meruntuhkan daya apung Aethelgard secara paksa."
"Dan jika daya apung benua ini runtuh..." Kaelen menghentikan kalimatnya, membayangkan bobot miliaran ton batu pualam dan kristal ini menghantam Kota Alveria di bawah sana. Kehancurannya tidak hanya akan meluluhlantakkan tingkatan bawah, tetapi seluruh struktur kota.
Suara gesekan dedaunan tembaga memecah pembicaraan mereka. Kaelen refleks menyambar kunci pas berat di pinggangnya, sementara Maya menggenggam erat belati mekanisnya. Dari balik rimbunnya pepohonan kristal, muncul sebuah makhluk berkaki empat yang seluruh kerangkanya terbuat dari kuningan halus bercampur pualam putih. Makhluk menyerupai serigala mekanis itu memiliki mata bernuansa amber yang memancarkan pendar tenang—tak ada tanda-tanda agresivitas dalam gerakannya.