Chronicles of Aethelgard

Amir Ghozaly Prasetyo
Chapter #5

Chapter 5 Jejak Rusak Sang Penjelajah

Suara dengung rendah dari enam piringan pendorong magnetik kapal Aether-Skiff terdengar begitu halus dan konstan, hampir tak terdengar jika dibandingkan dengan raungan kasar mesin uap kapal Alveria yang biasa memenuhi telinga. Kapal penjelajah purba berwarna perak keemasan itu meluncur mulus di atas kanopi hutan kristal yang rapat, membelah kabut tipis keemasan yang disinari oleh sang surya pagi. Udara di sekitar dek terasa begitu sejuk, bebas dari bau jelaga atau minyak terbakar yang biasanya menyengat hidung Kaelen setiap pagi di bengkelnya.

Dari atas kokpit terbuka yang terbuat dari kayu petrifikasi dipadu logam halus, Kaelen mengawasi barisan instrumen navigasi yang kini menyatu sempurna dengan jam saku perunggu di samping roda kemudi. Indikator daya etherium memancarkan warna biru jernih yang stabil tanpa ada tanda-tanda kebocoran tekanan atau fluktuasi suhu sedikit pun. Sentuhan mekanis Kaelen selama tiga jam berturut-turut di dalam bengkel tersembunyi tadi malam berhasil membangkitkan kembali teknologi berharga yang telah tertidur pulas selama berabad-abad.

"Sistem pendorong magnetiknya bekerja dengan sangat luar biasa," kata Kaelen, tangannya membelai lembut panel kendali pualam yang terasa hangat oleh pancaran energi. "Tidak ada gesekan roda gigi kasar, tidak ada pembakaran fosil yang menyisakan kerak. Kapal ini menyerap arus magnetik tanah Aethelgard dan menggunakannya sebagai daya dorong murni yang hampir tanpa cela."

Maya, yang berdiri tepat di sampingnya seraya mengamati peta tiga dimensi yang terproyeksi mengapung dari jam saku perunggu, mengangguk pelan. Namun, raut wajahnya yang muram dan sorot matanya yang meredup menunjukkan bahwa pikirannya sedang tertuju pada hal lain yang jauh lebih meresahkan.

"Lihat ke arah jam dua, Kael," bisik Maya pelan. Suaranya dipenuhi duka yang tak lagi bisa ia sembunyikan dari Kaelen.

Kaelen langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk oleh Maya. Keindahan teras-teras pualam purba dan pepohonan kristal yang memancarkan pendar warna-warni bagaikan pelangi mendadak terputus secara kasar oleh pemandangan yang amat mengerikan. Sebuah celah raksasa membentang puluhan kilometer, mengoyak permukaan benua melayang tersebut bagaikan luka tembak terbuka yang menganga tajam.

Di wilayah yang tadinya merupakan Hutan Lembah Hijau tempat tinggal para Automaton purba, kini berdiri sebuah instalasi industri raksasa milik Dewan Kota Alveria. Puluhan cerobong besi raksasa bertingkat yang diangkut oleh armada ekspedisi dimuntahkan langsung ke atas tanah murni Aethelgard. Cerobong-cerobong itu menyemburkan jelaga pekat serta limbah cair kehitaman yang langsung membunuh rumput-rumput luminesens di sekitarnya hingga berubah menjadi daratan tandus berbau minyak.

Pohon-pohon mekanis yang terbelah dibiarkan tumbang membusuk begitu saja di pinggir jalan retak, sementara urat-urat etherium murni dicungkil secara paksa menggunakan linggis besi berujung intan dan bahan peledak bertekanan tinggi. Ribuan makhluk kuno bercahaya tergeletak mati tak berdaya di tepi kawah penambangan; tubuh perunggu dan kristal murni mereka hancur terinjak-injak oleh roda-roda rantai alat berat musuh.

"Mereka tidak cuma mengambil energi dari tanah ini," gumam Kaelen, cengkeramannya pada tuas kemudi pualam mengencang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih pucat. "Mereka secara aktif membunuh benua melayang ini."

Lihat selengkapnya