Chronicles of Aethelgard

Amir Ghozaly Prasetyo
Chapter #6

Chapter 6 Rahasia Lorong Drainase Purba

Kegelapan lorong drainase bawah tanah Aethelgard terasa dingin dan lembap, sangat bertolak belakang dengan kehangatan lanskap permukaan benua melayang yang disinari energi kristal. Dinding-dinding batu pualam melingkar di sekeliling mereka dilapisi oleh lumut tipis bercahaya biru, memberikan pencahayaan temaram yang cukup bagi Kaelen dan Maya untuk melangkah di atas pijakan batu yang licin. Gemericik air jernih yang mengalir di saluran tengah lorong berpadu dengan gema dentuman rendah dari mesin penambang Dewan Kota Alveria yang bergetar hebat di atas kepala mereka.

Setiap beberapa ratus langkah, getaran dari permukaan membuat debu halus dan serpihan batu gugur dari langit-langit lorong. Kaelen berjalan di depan, mengarahkan lentera minyak kecilnya ke sudut-sudut lorong seraya memegang kunci pas berat di tangan kanan. Di pergelangan tangannya, jam saku perunggu terus memancarkan pendar membara, menunjukkan bahwa mereka sedang bergerak semakin dekat menuju titik pusat simpul energi barat.

"Tekanan uap dari mesin tambang di atas makin tinggi," ujar Kaelen pelan, suaranya bergema halus di dalam lorong melingkar tersebut. Tangannya menyentuh salah satu pipa besi tebal milik Dewan Kota yang dipasang secara paksa menembus dinding batu purba. Pipa tersebut terasa sangat panas dan bergetar hebat akibat aliran minyak uap bertekanan tinggi. "Vane menjejalkan kompresor uap kelas berat langsung ke dalam saluran pembuangan air murni ini. Jika uap panas bercampur dengan matriks etherium cair dalam kondisi tidak stabil, efek kimianya bisa memicu reaksi ledakan yang sangat masif."

"Itu yang memang mereka incaran, Kael," sahut Maya yang berjalan tepat di belakangnya, matanya terus sigap memperhatikan sekeliling. Ia memegang belati mekanis dan gulungan mika peta yang sudah terbuka sebagian. "Mereka ingin memotong paksa arus etherium murni menggunakan panas ekstrim dari uap buatan. Dengan begitu, simpul energi barat akan terputus dari jaringan pusat tanpa perlu merusak struktur fisik menara penstabil milik mereka di permukaan."

"Tapi tindakan itu memicu efek samping yang mematikan," balas Kaelen, matanya menajam saat melihat percikan api biru keluar dari sambungan pipa besi musuh. "Tekanan balik dari reaksi ini akan merobek seluruh saluran bawah tanah dan membuat seluruh kawah penambangan di atas roboh terperosok ke dalam lorong ini."

Langkah mereka mendadak terhenti di sebuah persimpangan luas berbentuk kubah bawah tanah. Di pusat ruangan tersebut, terdapat instalasi kompresor uap raksasa milik Pengawal Pengabuk yang memuntahkan asap hitam ke saluran udara buatan. Pipa-pipa besi raksasa menjalar dari mesin tersebut, menusuk langsung ke dalam telaga air etherium murni di dasar ruangan. Empat orang prajurit Pengawal Pengabuk berzirah besi tebal terlihat bertugas menjaga area vital tersebut dengan senjata tombak uap teracung penuh kewaspadaan.

"Itu kompresor utamanya," bisik Kaelen seraya bersembunyi di balik pilar pualam yang retak. "Lihat katup pembuangan tekanan di bagian sampingnya. Katup itu terbuat dari perunggu murahan yang dipaksa menahan tekanan ribuan pon. Jika aku bisa menyumbat katup pelepas daruratnya, kompresor itu akan meledak akibat akumulasi udaranya sendiri dalam hitungan detik."

"Aku akan mengalihkan perhatian para pengawal itu," kata Maya tanpa ragu. Ia merogoh saku mantolnya dan mengeluarkan sebotol cairan etherium pekat yang ia ambil dari bengkel kapal sebelumnya. "Saat aku memicu ledakan ombak air di telaga, kau merayap ke belakang mesin kompresor dan kunci katupnya."

"Maya, itu terlalu berbahaya! Pasukan pengawal itu dilengkapi dengan senjata uap jarak pendek!" cegah Kaelen penuh kekhawatiran.

Lihat selengkapnya