Pendar keemasan dari pintu batu rahasia membimbing langkah Kaelen dan Maya menembus koridor kuno yang belum tersentuh oleh polusi dan jelaga industri. Di sekeliling mereka, pilar-pilar batu pualam berukirkan untaian energi tampak menyalurkan denyut etherium yang kian stabil setelah kehancuran mesin kompresor musuh di simpul barat. Namun, kedamaian di lorong tersebut berbanding terbalik dengan gemuruh tinggi yang bergetar tajam dan terasa memekakkan telinga tepat di atas kepala mereka.
"Getaran keras ini berasal dari ruang kendali pusat Kubah Arka," kata Kaelen seraya memeriksa kompas jam saku perunggu yang melingkar di pergelangan tangannya. Pendar biru pada jam itu kini memancarkan kedipan cepat berwarna merah menyala di bagian lingkar luar. "Vane tidak lagi menggunakan metode penambangan lambat. Dia membawa seluruh pasukan inti dan kompresor uap tekanan tinggi langsung ke dalam ruang altar utama!"
Maya mempercepat langkah kakinya, mengencangkan cengkeraman pada belati mekanis di tangan kanannya. "Dia pasti sudah tahu kita berhasil memotong akses dua simpul pendukung. Jika dia tidak bisa memeras energi Aethelgard secara perlahan, dia akan mencoba menguras habis matriks inti kristal dalam satu lonjakan daya ekstrem untuk mengisi penuh armada perang The Leviathan."
"Dan tindakan nekat itu akan membuat daya apung benua ini runtuh seketika," sambung Kaelen dengan raut wajah yang mengeras.
Mereka akhirnya tiba di ujung lorong drainase, berdiri dengan waspada di balik teralis besi berukir yang menghadap langsung ke ruang utama Kubah Arka. Pemandangan di depan mata mereka terasa sangat mengerikan. Kristal etherium raksasa di pusat kubah kini dikelilingi oleh belukar rantai baja tebal yang ditarik oleh empat mesin kerek bertenaga uap berat. Pipa-pipa kuningan berukuran raksasa menancap paksa di selaput kristal, menyedot cairan keemasan murni dan menyalurkannya langsung ke palka kapal induk The Leviathan yang bertengger persis di atas kubah yang terbuka.
Di atas platform besi melayang di depan altar, Komandan Vane berdiri megah. Zirah uap kebesarannya berkilat tertimpa pendar kristal, sementara tangan logamnya mencengkeram erat tuas pengatur aliran kompresor utama. Puluhan Pengawal Pengabuk berbaris merapat di sekeliling platform, mengacungkan tombak uap ke arah mana pun ancaman mungkin muncul dari kegelapan.
"Vane sudah mengubah altar murni ini menjadi stasiun pengisian daya paksa," bisik Maya dari balik teralis besi, dadanya naik turun menahan amarah yang membara. "Kita tidak akan bisa mendekati altar tanpa harus melintasi arena terbuka yang penuh penjaga itu."
Kaelen menganalisis susunan pipa dan kawat baja yang melintang di udara ruangan dengan cermat. Naluri mekaniknya bekerja cepat, mencari celah sekecil apa pun pada konstruksi kasar milik musuh. "Perhatikan pipa distribusi sekunder yang terhubung ke mesin kerek di sebelah kiri, Maya. Katup peruncing tekanannya terbuat dari kuningan standar Alveria. Jika aliran etherium murni dari kristal dihantam oleh gelombang frekuensi berlawanan dari jam saku ini, tekanan di dalam pipa itu akan melonjak hingga dua ratus persen."
"Kau berniat menciptakan ledakan resonansi di dalam saluran mereka?" tanya Maya, menatap Kaelen penuh pemahaman.
"Bukan sekadar ledakan biasa, melainkan ledakan yang akan melumpuhkan seluruh zirah uap Pengawal Pengabuk sekaligus melenyapkan pasokan daya ke The Leviathan," jawab Kaelen mantap. Ia merogoh tas selempangnya, mengeluarkan obeng presisi dan kabel penyambung berbahan tembaga murni yang biasa ia gunakan untuk perbaikan darurat di bengkelnya. "Aku butuh kau memancing perhatian Vane di platform utama sementara aku meretas katup distribusi."