Chronicles of Aethelgard

Amir Ghozaly Prasetyo
Chapter #8

Chapter 8 Sabotase dan Ledakan Hidrolik

Dentuman demi dentuman masih terus bergemuruh dahsyat di udara Kubah Arka yang pekat oleh jelaga hitam dan pendar biru etherium. Meskipun puluhan zirah Pengawal Pengabuk telah melumpuh akibat ledakan pipa sekunder tadi, Komandan Vane belum menyerahkan kemenangannya begitu saja kepada dua anak muda dari Alveria. Dari palka kapal perang The Leviathan yang menggantung miring di atas struktur kubah yang terbuka, kabel-kabel kompresor darurat bertenaga uap murni disemburkan turun, menusuk kembali ke dalam jantung kristal inti dengan deru mesin yang sangat menyayat telinga.

Getaran hebat merambat cepat melalui lantai pualam yang kini retak-retak di sekeliling ruangan. Selaput kristal raksasa itu memancarkan kilatan merah yang sangat tidak stabil—sebuah pertanda jelas bahwa matriks daya di dalamnya dipaksa bekerja melebihi ambang batas toleransi fisiknya. Jika pemerkosaan energi ini dibiarkan bergulir sedikit lebih lama, akibatnya akan berujung pada bencana pemungkas bagi kedua peradaban.

"Kapal induk musuh itu menyedot daya secara langsung tanpa menggunakan katup penstabil sama sekali!" teriak Kaelen di antara gemuruh angin uap yang berhembus liar di sekeliling geladak. Ia menunjuk ke arah perancah besi utama yang menggantung di bawah lambung The Leviathan. "Jika penyerapan paksa ini berlanjut selama tiga menit lagi, inti kristal akan pecah total dan memicu ledakan implosi masif yang akan meruntuhkan seluruh benua ini langsung ke Kota Alveria!"

Maya yang berdiri tepat di samping Kaelen menggenggam erat jam saku perunggu yang terus memancarkan pendar emas hangat di jemarinya. "Altar utama ini membutuhkan koordinat penstabil yang tersimpan rapat di dalam jam ini, Kael! Tapi masalah besarnya, jalur menuju rongga altar terhalang oleh menara kerek hidrolik musuh yang masih berputar kencang!"

Kaelen menatap struktur menara kerek raksasa berbahan besi tempa Alveria yang berdiri tegak membentengi tangga pualam menuju altar puncak. Roda-roda gigi berukuran raksasa di menara itu berputar kencang tanpa henti, menggerakkan rantai baja tebal yang menarik daya kristal secara paksa ke atas. Dari sela-sela roda gigi tersebut, uap mendidih bersuhu ratusan derajat menyembur deras tanpa henti, memblokir siapa pun yang mencoba mendekat ke tangga utama.

"Aku yang akan pergi menghentikan putaran roda giginya," kata Kaelen dengan nada mantap tanpa keraguan. Tangannya mencengkeram erat kunci pas terbesar yang ia miliki, seraya merogoh dua tabung pemadam uap darurat yang tersisa dari tas selempangnya.

"Kael, jika kau menghambat rantai hidrolik itu secara manual, tekanan baliknya akan memicu ledakan di tempat kau berdiri!" tegur Maya penuh kekhawatiran, matanya memancarkan kecemasan yang mendalam atas keselamatan sahabatnya.

"Itu adalah satu-satunya cara agar kau bisa memanjat ke altar puncak tanpa terbayang-bayang oleh semburan uap mendidih itu!" balas Kaelen seraya menatap Maya tajam penuh keyakinan. "Percayalah padaku. Begitu roda gigi itu terkunci mati, kau langsung lari secepat mungkin ke rongga altar dan tancapkan jam itu!"

Tanpa menunggu balasan lagi dari Maya, Kaelen menerobos gumpalan uap panas di dasar menara kerek. Suara berdecit logam yang bergesekan menyamarkan langkah kakinya saat ia memanjat struktur besi licin yang berlapis oli tebal. Panas radiant menyengat kulit wajah dan tangannya, tetapi fokus seorang mekanik tingkatan bawah dalam diri Kaelen tak tergoyahkan sedikit pun. Ia mengamati gerakan poros transmisi utama dengan cermat—mencari titik lemah pada susunan roda gigi imperium Alveria yang terkenal sangat kaku.

"Katup pengunci otomatis tipe-9..." gumam Kaelen di tengah deru angin panas yang membakar udara. Ia melihat sebuah celah kecil yang sangat vital di antara engsel roda gigi kompresor hidrolik.

Lihat selengkapnya