Chronicles of Aethelgard

Amir Ghozaly Prasetyo
Chapter #9

Chapter 9 Fajar Baru Aethelgard

Kebisingan mesin uap yang sebelumnya memenuhi Kubah Arka kini lenyap total, berganti dengan keheningan yang amat menenangkan jiwa. Asap hitam pekat hasil pembakaran industri Alveria perlahan terdorong keluar oleh hembusan angin murni yang mengalir deras dari celah-celah dinding pualam. Dari puncak kubah yang menganga lebar ke langit lepas, kapal induk The Leviathan terlihat berjuang keras menjaga keseimbangan fisiknya di udara. Dengan asap tebal memancar dari mesin utamanya yang rusak parah akibat putusnya transmisi daya secara mendadak, kapal raksasa milik Dewan Kota itu terpaksa memutar haluan dan berlayar mundur perlahan, meninggalkan wilayah udara Aethelgard menuju celah awan bawah yang kelam.

Kaelen berdiri terpaku di anak tangga altar bawah, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan raksasa tersebut dengan napas yang masih terengah-engah. Sisa-sisa zirah besi Pengawal Pengabuk tergeletak tak berdaya di atas lantai pualam yang retak, terlepas penuh dari daya hidrolik mereka akibat lonjakan frekuensi. Di puncak altar, pendar emas murni dari kristal etherium memancar begitu hangat dan stabil, tidak lagi menyengat atau bergetar liar seperti saat dipaksa oleh kompresor musuh secara brutal.

Maya melangkah turun dari puncak altar pualam, memegang jam saku perunggu yang kini berdetak halus, teratur, dan penuh dengan aura kedamaian. Langkah kakinya terasa begitu ringan, seolah beban berat yang selama ini menekan pundaknya sejak dari Kota Alveria telah terangkat sepenuhnya tanpa sisa. Saat ia mendekati Kaelen, ia mengulurkan tangannya yang bersarung pelintir, membantu sahabat mekaniknya itu untuk berdiri lebih tegak di atas lantai pualam yang penuh dengan remahan batu dan serpihan pipa musuh.

"Kita benar-benar berhasil, Kael," bisik Maya pelan, suaranya bergetar lembut oleh keharuan yang meluap di dalam dadanya. Matanya yang jernih memantulkan pendar keemasan murni dari inti kristal Aethelgard yang kini berdenyut sempurna. "Vane dan seluruh armada perang Dewan Kota telah mundur sepenuhnya dari wilayah benua melayang ini."

Kaelen menatap jam saku di tangan Maya dengan dalam, lalu mengalihkan pandangannya ke luar pintu Kubah Arka yang terbuka lebar menyapa cakrawala. "Mereka mundur untuk sementara waktu, Maya. Tapi orang-orang seperti Dewan Kota tidak akan pernah benar-benar menyerahkan ambisi kerakusan mereka begitu saja. Suatu hari nanti, saat mereka berhasil mengumpulkan kekuatan baru, mereka pasti akan mencari cara lain untuk kembali merampas tempat ini."

"Jika hari yang buruk itu tiba di masa depan," balas Maya dengan nada suara yang sangat mantap dan penuh keyakinan, "Aethelgard tidak lagi menjadi sebuah benua kuno yang mati dan tak berpenghuni. Kita telah membangkitkan kembali seluruh sistem pertahanan alaminya yang telah tertidur pulas selama berabad-abad."

Lihat selengkapnya