Sudah dua bulan, setiap jam makan siang Kantin Rere selalu ramai pengunjung. Pekerja yang hanya ada empat orang perempuan tampak lusuh karena lelah.
“Semua berkah ini mulai terasa menyesakkan, Kawan,” seru Sarah saat kantin berangsur sepi. “Haruskah kita minta tanggung jawab?” lanjut Reva memprovokasi. Nafin hanya bisa menghela napas lalu tersenyum mendengar ocehan teman-temannya. Ia memilih pura-pura sibuk mencuci peralatan masak, membelakangi semua temannya. Tentu saja, Nafin tahu yang sedang mereka maksud.
“Kapan kamu akan menerima laki-laki itu dan membuat keadaan kembali semula, hm?” tanya Vita mendekat dan membantunya menata alat yang sudah bersih ke rak di sampingnya.
“Kalian akan dihukum jika tidak bersyukur atas semua keuntungan yang diterima Bos, oke?” jawab Nafin berbalik dan memberi kerlingan tanpa dosa seperti biasa. Temannya saling mendecap malas lalu masing-masing pergi, ingin menikmati waktu istirahatnya. Nafin diikuti Vita juga merebahkan diri di kursi panjang dapur yang mereka tempati kini. Setiap hari benar-benar terasa melelahkan. Nafin menutup mata, tidak banyak yang ia pikirkan. Hanya nama Devan yang kian memenuhi isi kepalanya.
Devan putra pemilik perusahaan yang kantornya berdiri megah di samping kantin tempat Nafin bekerja. Sejak beberapa bulan lalu mereka saling mengenal satu sama lain. Pertemuan tidak sengaja di pusat perbelanjaan kala itu menjadi awal perjumpaan mereka yang tiada henti hingga kini.
“Sebenarnya bagaimana kalian bisa kenal?” tanya Vita mengisi kekosongan. Nafin membuka mata, ia bangun dan tetap bersandar tenang di kursinya.
“Ingat saat Bos mengajakku belanja?” tanya Nafin memulai. Vita tampak mengingat-ingat, “Saat dia bilang ingin membeli hadiah untuk ibunya?” lanjut Vita membuat Nafin mengangguk.
“Kami bertemu di sana. Sangat buruk,” jawab Nafin menggeleng putus asa. Tanpa bertanya pun Vita tahu, jika pasti Bos mereka lagi-lagi berbuat ulah.
“Apa yang Bos lakukan?” tanya Vita tetap penasaran. Nafin ngeri mengingat kejadian saat itu. Bos mereka memang terkenal memiliki temperamen buruk. Ia tidak akan segan pada siapa pun jika melakukan salah padanya. Nafin masih sangat ingat, momen saat anak kecil yang main kejaran di Mall tidak sengaja menabrak Bos dan membuat minuman di tangannya tumpah. Nafin sangat menyayangkan karena anak kecil itu ternyata bandel, tidak mau minta maaf pada Bos, sehingga membuatnya marah, dan melempar minuman miliknya ke sembarang arah. Sialnya, minuman itu mendarat mulus di jas mahal yang dikenakan Devan.
“Belikan dia jas baru.” Kalimat tak acuh itu masih jelas terngiang di telinga Nafin dan membuatnya terus menggeleng heran setiap kali mengingatnya. Bos Rere memang sesuatu!
“Jadi, singkatnya kalian belanja bareng?” simpul Vita. Nafin meng-iyakan dengan mantap. Vita menyipitkan mata, masih merasa janggal. “Devan tertarik padamu karena membelikannya jas?” lanjut Vita. “Tapatnya, memilihkan jas!” jawab Nafin membuat Vita membuang tawa, konyol sekali!
***
Nafin dan Vita seperti biasa mendapat jatah menutup dan mengunci pintu kantin. Sarah dan Reva bagian Tim Koki jadi mereka menyebut diri sebagai orang belakang, sedangkan Vita di kasir dan Nafin bagian pemesanan sekaligus pelayan di bagian depan. Masing-masing sudah punya tanggung jawab meski tetap harus saling bantu saat tim lain kerepotan. Sementara, Bos hanya akan datang mengambil uang sesuka hatinya.