Cinta, Belum Berakhir?

Deasy Astari Dawangga
Chapter #2

PART 2


Devan masuk ke rumah besarnya dengan tenang. Banyak hal yang terjadi hari ini. Sejak pertemuannya dengan Nafin beberapa hari lalu, ia belum sempat kembali mencari perempuan itu. Tidak ada yang terselesaikan antara keduanya, meski ia sudah menarik kebiasaan di kantin. Devan menghempaskan tubuh ke sofa, mengedarkan pandangan sebentar ke seisi rumahnya, sepi. Rumah yang begitu besar ini selalu terasa hampa. Ia nyaris tidak pernah melihat orang tuanya selain tiap makan pagi. Papa selalu sibuk di kantor dan Mama yang punya banyak urusannya sendiri di luar sana.

“Cucu Oma, sudah pulang?” Devan sadar dari lamunannya. Wanita tua itu mendekat, mengambil tempat di sisinya. Devan balas tersenyum, hanya Oma yang terasa mengisi kekosongan di sini. Dia pemilik tahta tertinggi di rumah. Bahkan, beberapa pekerja yang ada berada di bawah kuasanya. Devan cukup tahu, Oma menjadi alasan kenapa Mama lebih suka keluyuran.

“Bagaimana kabar perusahaan?” tanya Oma. Devan tidak bisa mengerti, diusia yang sekarang, seharusnya Oma sudah tidak perlu ikut pusing memikirkan perusahaan.

“Papa mengurusnya dengan baik,” jawab Devan.

“Bagaimana denganmu?” tanya Oma selanjutnya. Devan mengalihkan pandangan, menghela napas. Tiba-tiba ia merasa sesak di ruangan yang luas ini.

“Devan juga baik-baik saja, Oma,” jawab Devan akhirnya. Ia tidak pernah ingin berdebat dengan Oma tentang pekerjaan. Devan sangat tahu, apa yang selalu diinginkan Oma. Selama ini, ia sudah menjadi cucu kesayangan di keluarga besarnya. Devanlah yang selalu disebut sebagai penerus selanjutnya sebagai pemilik perusahaan. Oma punya dua anak laki-laki, tapi hanya Papa yang ia sukai, dan membuat posisi Devan seperti sekarang. Apa ia tidak bersyukur? Tidak, Devan sangat senang dengan semua yang ia miliki hingga kini. Ia hanya keberatan dengan sikap Oma yang seolah memiliki hak atas hidup semua orang di keluarganya.

“Ada seseorang yang kamu sukai?” Satu lagi pertanyaan membuat Devan menutup mata frustrasi. Ia menyesal tidak memperkirakan semua kemungkinan ini sejak awal. Aksi kekonyolannya pasti membuat Oma lebih cepat mengetahui segalanya.

“Oma selalu tahu semua hal,” jawab Devan tersenyum getir. Wanita tua yang masih tampak menawan itu sudah berdiri anggun di tempat. Pandangannya menatap jauh, semakin menunjukkan seberapa kuat sosoknya.

“Jangan membuat Oma kecewa karena pilihan yang sembrono, Sayang!” Kalimat penegasan itu terasa ngilu di telinga Devan. Tanpa menunggu balasan, Oma melangkah pergi, seolah sudah menghapus sedikit asa yang masih Devan miliki tanpa sisa.

***

Nafin membereskan meja yang sudah ditinggal para pelanggan. Ia dan teman kerjanya mulai bisa kembali bernapas dengan tenang. Ia lega karena Devan sungguh menarik kembali pelanggan bayarannya. Bagaimana pun, sebagai pekerja ia lebih suka saat keadaan stabil, tidak perlu berlebih.

“Ke mana semua pelangganku pergi?” keluh Bos Rere di kursinya. Sejak tadi wanita muda itu memilih menikmati secangkir teh di meja pelanggan. Nafin yang bisa mendengar hanya diam-diam tersenyum sambil terus mengelap meja.

“Nafin, kesini!” pinta Bos tiba-tiba.

“Ada apa, Bos?” tanya Nafin mendekat. Bos mulai menyilangkan kaki dengan tangan di depan dada, membuat perasaan tidak enak menyelimuti benak Nafin.

 “Ajak mereka semua datang ke kantor sebelah, buat selebaran, lalu berikan ke setiap orang di sana,” titahnya. Bos pergi setelah mengatakan itu, sementara Nafin kini ganti mengeluh di tempat. Membayangkan reaksi teman-temannya membuat Nafin semakin putus asa.

Lihat selengkapnya