Cinta, Belum Berakhir?

Deasy Astari Dawangga
Chapter #3

PART 3


Devan mengedarkan pandangan, melihat sekeliling. Perlahan matanya berhenti di titik Nafin berada. Ia masih memastikan penglihatannya tidak salah, ternyata benar, itu Nafin. Devan bertanya dalam sorot mata, apa yang dilakukan Nafin di sini? Sebentar ia beralih pada Oma di dekatnya, lalu kembali pada Nafin di kejauhan.

“Siapa mereka?” tanya Oma pada salah satu orang berjas rapi yang menyambutnya. Orang itu mengikuti arah pandang nyonya besar perusahaan.

“Mereka karyawan kantin sebelah, ke sini hanya untuk menyebar selebaran di kantin kantor,” jelas satu orang lain, dialah yang kemarin memberi ijin pada Nafin.

“Jadi, begitu.” Oma tidak lagi bertanya, ia segera masuk begitu pun Devan, semua orang yang tadi menyambut juga mengikuti di belakangnya.

Devan merasa sedikit lega, setidaknya Oma tetap tenang seperti yang diharapkan. “Kamu mengenal mereka?” tanya Oma sedikit menoleh pada Devan. Terdengar helaan napas dari cucunya. Meski tanpa bertanya pun sebenarnya Oma tahu, tentu gadis yang disukai Devan ada di antara mereka.

“Sebentar lagi jam istirahat, kita bisa makan siang di kantin,” putus Oma.

“Kenapa memilih makan di sana? Oma bisa makan di tempat yang seharusnya,” sanggah Devan. Wanita itu menyunggingkan senyum, tidak terdengar nada khawatir maupun takut dari jawaban Devan. Satu hal yang paling disukainya dari cucu kesayangan, Devan tidak pernah ragu atas apa pun yang menjadi pilihannya.

“Oma ingin bertemu gadis itu,” balas Oma terus terang. Devan kembali menghela napas berat.

“Biar Devan atur waktu untuk itu,” jawab Devan lagi. Hanya Devan yang selama ini cukup punya keberanian untuk tidak selalu menuruti kemauan Oma. Setelah berpikir, tidak ada salahnya untuk sementara menuruti keinginan Devan.

“Baiklah, Oma akan menunggu,” pungkasnya. Tidak ada balasan lagi dari Devan, Oma kembali sibuk bertanya tentang perkembangan perusahaan. Hari ini, Oma datang ke kantor karena Papa Devan sedang berada di luar kota, melihat persiapan pembukaan hotel baru di sana. Perusahaan keluarga Devan bergerak dalam bidang perhotelan dan jasa properti, termasuk salah satu perusahaan terbesar di kota ini.

***

“Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan sampai tidak tahu bagaimana kehidupan Devan, Kinara!” Wanita yang dipanggil Kinara segera menutup buku di tangannya lalu memasukkan kembali ke laci meja rias. Ia menatap jengkel pada mertua di hadapannya. Lagi-lagi wanita tua ini memaksa masuk ke kamarnya tanpa ijin.

“Ada apa lagi sekarang, Ibu?” tanya Kinara malas.

“Buat Devan menjauhi gadis itu!” ucap ibu mertua dengan nada memerintah.

Tanpa memedulikan Kinara, Ibu kembali keluar tanpa pamit. Kinara mendesah putus asa, ia memijit pelan kepalanya yang tiba-tiba pusing. Kinara tidak habis pikir, kenapa akhir-akhir ini Devan suka sekali membuat masalah. Ia tentu tahu, apa yang baru-baru ini anaknya lakukan. Tentang Devan yang banyak menghabiskan uang untuk staf kantor di kantin sebelah perusahaan. Rupanya ia tidak salah mengira, akan ada hal bodoh lain yang terjadi.

Lihat selengkapnya