Udara dingin kian terasa menusuk tulang. Nafin tanpa sadar mengelus lengannya yang terbuka, saat ini ia hanya mengenakan kaos hitam polos berlengan pendek. Di sampingnya, Devan sedikit tersenyum memperhatikan. Tidak menunggu lama, laki-laki itu segera melepas jaket kulit yang dikenakan, dan perlahan beralih memakaikannya pada Nafin.
“Aku tidak bercanda, mari kita menikah,” ucap Devan sekali lagi. Devan mendekatkan wajah pada Nafin. Bola mata Nafin tampak membesar mendapati aksinya. Devan semakin melebarkan senyum melihat wajah di depannya mulai bersemu merah, bahkan karena jarak yang begitu dekat, Devan bisa merasakan embusan napas milik Nafin.
“Jangan main-main!” Nafin segera mendorong tubuh tegap Devan dari hadapannya. Reaksi Nafin membuat Devan membuang tawa senang.
“Bagaimana? Aku tidak mau menunggu, jadi jawab saja sekarang, oke?” lanjut Devan, Nafin semakin gusar di tempat. Setengah kesadarannya terus memaki sikap Devan, namun setengahnya lagi merasa begitu bahagia atas tawaran tiba-tiba dari laki-laki itu.
“Jika aku menolak?” tanya Nafin pelan.
“Aku tidak mengatakan kamu boleh menolak,” balas Devan enteng. Sekali lagi, Nafin nyaris memukul bahu Devan.
“Lalu, untuk apa bertanya? Dasar!” cerca Nafin.
“Artinya, kita akan menikah,” lanjut Devan tersenyum menang. Laki-laki itu meraih kedua bahu Nafin, membawanya berhadapan. Perasaan Nafin yang sejak tadi tidak menentu kini berangsur tenang mendapati tatapan teduh dari Devan. Entah bagaimana ini akan diceritakan, tapi merasakan jantungnya yang tidak berhenti berdebar, Nafin tahu, ia pun juga menginginkan Devan.
***
“Kamu pulang larut?” Satu suara menghentikan langkah Devan, ia menoleh, dan mendapati pria yang sudah tidak asing duduk khidmat di kursi ruang tamu. Kedua kaki menyilang menunjukkan betapa sempurna ia di tempatnya.
“Papa menunggumu,” lanjutnya menjawab tanya dari sorot mata Devan. Tidak perlu di minta, Devan menghampirinya.
“Apa yang sedang kamu urus?” tanya pria yang masih tampak gagah dengan setelan kemeja dan rompi kerja.
Surya Mahendra, pemimpin perusahaan sekaligus ayah dari Devan. Dia bukan pria yang boleh dianggap remeh, Devan sangat tahu citra ayahnya. Surya sangat disegani bahkan oleh Oma sekalipun. Meski, ia anak kebanggaan Oma, tidak memutus kemungkinan jika Oma pun tampak begitu menghormatinya. Apalagi Devan, meski ia tidak begitu suka, tapi ia tetap tidak punya hak untuk melawan ayahnya.
“Mama sudah bicara denganmu?” lanjut Surya bertanya, membuat Devan tampak jengah.
“Aku ingin istirahat,” ujar Devan berniat menghindari pembicaraan ini. Devan sedang tidak mau berdebat. Tidak ingin merusak suasana hatinya.
Surya balas menatap dingin. Surya tahu, Devan berusaha kuat untuk tidak menggubris obrolannya kali ini.
“Kamu sebaiknya tidak mengabaikan peringatan dari Mama,” lanjut Surya, tidak ingin kalah, ia memilih pergi lebih dulu meninggalkan Devan.
Devan menatap sosok yang kian menjauh di depannya. Perasaan marah kembali muncul, ia teringat Kinara yang sering terdiam dan menangis. Devan tidak perlu bertanya, meski belum tahu sebenarnya, tapi ia percaya, hanya Surya satu-satunya alasan yang membuat Kinara begitu nelangsa.
Devan mengatupkan rahang kuat. Kini, ingatannya beralih pada Nafin. Devan sangat mengenal keluarganya sendiri, mereka tipe orang yang tidak akan ragu untuk menyakiti orang lain. Meski memutuskan untuk menurut, belum tentu keluarganya tidak mengusik hidup Nafin.