Cinta, Belum Berakhir?

Deasy Astari Dawangga
Chapter #6

PART 6


Devan melangkah pasti masuk ke klinik kecantikan di mana Kirana berada. Melalui asistennya, ia bisa menemukan keberadaan ibunya sekarang. Kedatangan Devan cukup membuat mata para pelanggan wanita yang terpesona melihatnya. Seperti biasa, Devan tidak memedulikan hal itu.

Pintu ruang VIP menyambut, tanpa permisi ia cepat menemukan Kinara. Wanita itu menyadari kehadiran Devan, tapi memilih tidak beranjak dari sofa tempat ia duduk kini. Tangan Kinara tetap sibuk membalik halaman majalah wanita yang disiapkan petugas klinik untuknya.

“Kenapa Mama menemui Nafin tanpa memberitahuku?” tanya Devan mengawali debat panjangnya.

“Apa Mama perlu memberitahumu?” tanya Kinara balik, membuat emosi Devan kian memuncak.

“Jangan mengganggunya!” tegas Devan. Kinara menutup majalah dengan kesal. Ia tidak suka Devan yang terus membantah.

“Jika begitu, jangan membuat masalah! Kamu tahu, Mama juga punya kesibukan sendiri. Kenapa kamu masih merepotkan Mama seperti ini, ha?” balas Kinara tidak kalah garang.

“Biar aku yang urus ingin hidup dengan siapa,” ujar Devan hendak mengakhiri.

“Kamu ingin membuatnya dalam bahaya?” Satu kalimat dari Kinara menahan langkah kaki Devan untuk beranjak.

Sekali lagi, Kinara ingin mengancamnya dengan menyakiti Nafin. Devan sangat membenci satu sisi hidupnya yang banyak terisi hal keji.

“Jika ada yang berani menyentuhnya, tidak akan aku maafkan. Siapa pun itu!” pungkas Devan memberi peringatan lalu berbalik badan. Sebelum benar-benar pergi,  ia menoleh sebentar pada Kinara. Wanita itu kembali duduk dengan anggun di kursinya.

***

Pagi ini tubuh Nafin terasa lebih segar. Setelah mengunci pintu rumah, ia menghirup napas dalam, menikmati sejuknya angin pagi yang berembus tenang.

Tin!

Suara klakson mobil membuat Nafin makin semringah. Hari berat sebelumnya sudah terlewati. Banyak hal yang dijanjikan Devan dan membuat Nafin lega. Meski hanya janji, tapi ia ingin mempercayai Devan sepenuhnya.

Nafin masuk ke dalam mobil yang menjemputnya. Devan menyambut dengan hangat. Sepanjang perjalanan mereka riang saling cerita banyak hal.

“Kamu akan datang ke kantin untuk makan siang?” tanya Nafin.

Devan tampak berpikir sebentar, “Aku usahakan, oke?” jawab Devan.

Nafin tersenyum, “Asal jangan lupa makan, meski tidak di kantin, tidak masalah,” lanjut Nafin.

“Senangnya, kamu selalu pengertian. Aku jadi tidak bisa menolak saat kamu meminta sesuatu,” balas Devan membuat Nafin tertawa. “Mungkin itu strategimu?” tambah Devan sambil mengerlingkan mata jail. Nafin berhenti tertawa dan menghadiahi Devan pukulan pelan di lengan. Mereka kembali tertawa bersama, ini menyenangkan.

Lihat selengkapnya