Hari berlalu seperti biasa, kejanggalan yang terjadi pagi tadi tidak memberi akhir seperti angan-angan mereka. Atau mungkin, karena orang suruhan Devan masih setia menjaga Kantin Rere, jadi orang aneh itu tidak berani mendekat? Nafin sungguh lega, Devan selalu memberi penjagaan padanya. Terlebih, melihat temannya yang lain juga merasa sangat tertolong, Nafin semakin ingin mempercayai laki-laki itu.
Jam tutup kantin sudah tiba. Nafin dan teman-temannya juga sudah selesai berbenah seperti biasa.
“Kita bisa pulang?” tanya Reva setelah selesai mencuci sisa piring di westafel. Semua saling lempar pandang sesaat.
“Apa orang aneh itu benar tidak akan muncul?” tambah Vita bertanya.
“Bagaimana menurutmu, Nafin?” lanjut Sarah. Kini semua mata tertuju pada Nafin. Nafin menoleh ke luar, hari mulai gelap, dan sepertinya Devan tidak akan datang.
“Aku akan bicara dengan mereka, sebentar,” jawab Nafin. Ia meninggalkan teman-temannya.
Sedikit ragu, tangan Nafin perlahan membuka pintu. Sebentar ia melihat sekeliling. Reno juga tidak tampak di sini.
“Apa Reno sudah pergi?” tanya Nafin pada satu di antara dua orang yang berjaga.
“Benar, setelah kalian pulang, kami juga harus pergi,” terangnya. Nafin melihat lagi ke arah teman-temannya berada, mereka pasti kembali cemas.
Dreeth! Dreet!
Getar ponsel membuat Nafin sedikit terkejut. Namun, setelahnya ia berembus lega. Devan mengirim pesan.
“Aku akan mengantarmu, minta penjaga di sana mengantar teman-temanmu pulang. Tunggu aku, oke?”
Nafin tersenyum, setelah membalas pesan Devan ia kembali terlihat ceria. Beban di hatinya sudah terangkat. Nafin menyampaikan pesan Devan pada penjaga, lalu masuk untuk memberitahu teman lainnya.
“Mereka akan mengantar kalian pulang,” ujar Nafin memberitahu.
“Syukurlah,” ucap Vita dan Reva hampir bersamaan.
“Bagaimana denganmu?” tanya Sarah pada Nafin.
“Devan memintaku menunggunya,” jawab Nafin tersenyum. Semua tampak tenang mendengarnya.
Setelah teman-temannya pergi, Nafin memilih menunggu Devan di dalam kantin sendiri. Ia memperhatikan kendaraan yang lalu-lalang di jalan. Meski hari telah gelap, tapi karena di depan sana masih termasuk jalanan besar, jadi tidak terasa sepi.
Di tempat lain, Devan sibuk bersiap diri di kantornya, bersama Reno. Asisten itu tengah menyampaikan apa yang ia dapat dari tugas yang diberikan Devan padanya.
“Orang itu tidak muncul sampai akhir,” ucap Reno merasa jika situasi tidak seburuk yang Devan pikirkan.
“Menurutmu tidak perlu dikhawatirkan?” tanya Devan meminta pendapat.