Usaha keras Reno untuk mengikuti mobil yang menculik Nafin tidak sia-sia, kini Reno menepikan mobil tidak terlalu jauh dari tempat di mana mobil dua orang serba hitam tadi membawa Nafin berhenti. Mata Reno terus siaga, agar tidak kehilangan orang-orang yang sedang ia buntuti, cukup sulit untuk fokus mengawasi di saat keadaan gelap seperti sekarang. Reno sesekali memperhatikan sekitar, ia pasti berada di tempat yang jauh melihat durasi perjalanannya.
Sial!
Reno masih sempat mengumpat di saat seperti ini. Nafin sungguh hanya akan menyulitkan Devan di masa depan. Membayangkan semua isi kepalanya, membuat Reno putus asa. Harus diakui, ia terpaksa ada di sini sekarang. Sejak tadi sebenarnya ia sedikit menyesali keputusannya mengikuti orang-orang itu. Tapi, inilah bentuk setia kawannya padanya Devan.
Reno menguap lebar, ia berharap dua orang tadi cepat pergi, jadi ia bisa datang menyelamatkan Nafin. Ia hanya berpikir rencana yang sederhana ini sejak tadi. Tidak mungkin jika ia sengaja membuat keributan, Reno bukan orang seperti itu. Beruntung Devan tidak di sini, jadi ia bisa tenang dengan rencananya. Terpenting, ia bisa membawa Nafin, itu sudah cukup.
Dua orang tadi kembali keluar setelah meninggalkan Nafin di dalam bangunan usang. Reno bersiap, ia menunduk menyembunyikan diri saat mobil mereka melintas melewatinya.
***
Nafin sadar, tapi begitu sulit untuk membuka mata, kepalanya masih terasa sakit. Ia jelas ingat apa yang terjadi padanya. Ia terus menahan diri agar tetap berhati-hati. Perlahan, saat penglihatannya mulai jelas, Nafin melihat sekeliling, tidak ada orang. Beruntung tidak satu pun anggota tubuhnya yang diikat seperti dalam sinetron, ia bisa bebas membuat upaya melarikan diri.
Dari sela pintu yang tertutup, Nafin mengintip. Ia kembali was-was melihat ada mobil yang mendekat. Nafin mulai bingung di tempat, apa yang ia lakukan sekarang? Haruskah pura-pura pingsan? Nafin menggeleng putus asa, itu akan membuatnya semakin berada dalam bahaya.
“Re-no?” ucapnya ragu saat kembali mengintip dan melihat siapa yang keluar dari mobil.
***
Devan masih memikirkan cara untuk bisa keluar dari kamar yang kini mengurungnya. Malam panjang ini belum berakhir, ia terus berharap semoga Nafin baik-baik saja. Devan tidak tahu harus mulai dari mana, bahkan ia yakin tidak akan ada yang datang menolongnya, entah Oma apalagi Kinara. Ia tidak mungkin mencoba mendobrak pintu kamar karena itu jelas sia-sia, di luar pasti ada orang suruhan Surya.
Klek!
Suara kunci terbuka membuat Devan melompat kembali ke ranjang, tidak ingin menunjukkan kepanikannya. Seorang pelayan di rumahnya masuk, Devan sedikit bingung apa yang perlu dia lakukan di jam malam begini.
“Tuan, Nyonya Kinara yang mengirim saya kemari,” ucapnya berbisik.
“Benarkah?” tanya Devan belum percaya. Kinara tidak pernah melawan Surya, entah untuk hal apa pun. Baru kali ini mamanya itu bersikap begini.