September 2009,
Hari ini aku baru interview kerja di kantor untuk pertama selepas lulus kuliah. Aku bergegas pergi, aku mengenakan kameja, androk yang lumayan ketat, sepatu boot berwarna hitam yang lumayan tinggi, dan tak lupa kemarin aku sudah ke salon untuk rapihkan rambutku yang sedikit dan tipis ini, aku minta rambutku di beri ombak/ keriting di bagian bawahnya. Aku harap bisa membuat aku lebih tampak dewasa. Badanku mungil, kulitku kuning Langsat, rambutku lurus dan sedikit tipis, lebih cocok jadi anak SMA dari pada terlihat anak lulusan kuliah.
Aku kuliah tidak lama, aku lulus lebih cepat, satu tahun lebih awal dari teman-teman satu angkatanku. Tepatnya, aku baru lulus Juli kemarin, ikut wisuda kakak kelasku. Aku ingin cepat kerja, dan lekas bisa kasih gaji pertamaku untuk mama, selama ini mama yang kerja keras untuk sekolahin aku selepas papa meninggal dunia.
Namaku Cinta, aku bercita-cita ingin menjadi dokter atau psikolog, susah payah aku kejar jurusan IPA di SMA, tapi apa daya aku hanya anak yatim yang harus mengubur cita-cita itu dalam-dalam. Aku ikut semua tes masuk ke perguruan tinggi, setelah aku tau biaya masuknya sangat mahal semua cita-citaku cukup aku kubur saja. Dan dengan iseng sekarang aku bergelar Sarjana Ekonomi. Di luar keinginan dan ekspetasi yang aku cita-citakan sejak kecil.
Akunting, itu jurusan yang mama pilihkan untukku, sekarang aku kerja sebagai administrasi di kantor ini. Kantornya tidak terlalu besar, hanya tes psikotes yang aku lalui sangat rumit. Nggak nyangka harus serumit ini. Mungkin karena bagian keuangan.
Sovian dan Siska, dua HRD yang tes aku langsung, dari pagi sampai siang hari cukup lelah aku jalani, tapi puas sih aku pun bisa langsung kerja. Dengan begitu aku nggak akan Bebani uang jajan mama lagi. Aku bisa mandiri kini.
Seminggu kemudian,
Kisah cintaku sedikit rumit, saat lulus SMA aku harus kehilangan cinta pertamaku, tepatnya aku milih mundur karena kasta atau status sosial kami berbeda, 5 tahun aku berhubungan dengannya tapi aku rasa orang tua nya tidak terlalu menyukai aku maklum aku hanya anak yatim yang tidak kaya raya.
Kini aku tunangan dengan kakak kelas kuliahku, alhasil aku berusaha move on dari cinta pertamaku. Walaupun dia masih terus berusaha menghubungiku, tapi aku cukup tau diri saja. Aku tidak pantas bersanding dengannya.
Hubungan aku dengan tunanganku cukup baik, hanya terkadang aku merasa kami lebih cocok sebagai kakak adik atau sahabat, mungkin karena sudah lama pacaran jadi aku merasa nyaman dan nyaris tanpa jarak, tanpa rahasia pacaran sudah mulai terasa jenuh. Cuma takdir telah membawa kami sampai ke titik tunangan ini. Jalani saja, aku harap setelah menikah nanti aku bisa mencintai nya dengan tulus. Dan dia benar-benar jodoh yang di kirim Tuhan khusus untukku saja.