# Bab 1. Dia Pulang
Hari itu wajah gadis cantik yang bernama Indira Megasari terlihat sumringah dari biasanya. Ia mendengar kabar dari orang yang dinantikan selama ini—Satria William.
Dia—sahabatnya sejak kecil, yang telah berpisah selama 3 tahun karena urusan keluarganya, kini kembali.
Kabar itu datang beberapa hari yang lalu. Dan di hari spesial ini. Dimana Indira datang untuk menyambutnya telah tiba.
Ia berdandan secantik mungkin. Dengan make up yang tipis. Memakai dress polos, dan warna yang cerah seperti matahari terbit. Panjangnya selutut. Ia tidak memakai aksesoris apapun. Hanya ada jam tangan bewarna hitam yang menghiasinya.
Pagi itu, Indira sudah sampai di bandara. Ia melangkah tergesa-gesa. Tak sabar ingin segera melihat wajahnya.
Beberapa menit kemudian, Indira berhenti di tengah-tengah kerumunan. Ia memperhatikan suasana bandara saat ini begitu ramai.
Bandara...
Bisa menjadi tempat pertemuan seseorang yang sudah lama berpisah. Juga bisa menjadi tempat terakhir seseorang bertemu. Beberapa dari mereka ada yang jumpa dan pisah sambil berpelukan. Ada pula yang pura-pura kuat bahkan juga ada yang air matanya tumpah begitu saja. Dan Bandara itu sendiri bukan satu-satunya tempat pertemuan terakhir.
Indira mulai mengecek layar ponselnya. Ada notifikasi pesan—Satria.
Pesan yang sama. Mungkin untuk sekedar mengingatkan.
Landing jam 10. Jangan telat!
Indira menghela napas. Ada rasa gugup dalam dirinya yang sulit diartikan. Dan jantungnya tak berhenti berdegup kencang. Padahal orangnya belum datang.
Telapak tangannya mulai dingin. Bagaikan berada di musim dingin. Ia mencoba mengingat beberapa kalimat yang sudah ia latih seminggu lalu.
Kalimat yang dia susun di hari spesial ini:
"Aku suka kamu, Sat. Sejak dulu.
Simpel dan tidak panjang. Ia berkali-kali berlatih di dalam kamar mandi. Berlatih saat hendak mau tidur. Bahkan berlatih ngomong sama tembok. Ia bayangkan kalau tembok itu adalah Satria.
Tapi, saat mulut Indira mau mengucap, selalu mendadak menjadi tombol pause. Ia tahu apa sebabnya.
Sebabnya adalah...
Tidak memiliki keberanian mengungkapkan.
Takut akan ditolak.
Takut akan... persahabatan yang sudah dibangun selama ini, runtuh begitu saja. Atau tak lagi seperti dulu.
Ketakutan itulah yang menjadi kelemahannya. Lalu sampai kapan ia akan menyimpannya terus?
Suara pengumuman dari pengeras suara tanda penumpang pesawat turun.
"Penumpang penerbangan..." suara itu menyebutkan angka-angka dan informasi yang tidak Indira pedulikan. Yang Indira pedulikan cuma satu yaitu kemunculan orang yang ditunggu-tunggu.
Indira segera bergegas melangkah, mencari, dan berjinjit dari banyaknya kerumunan.
Orang-orang keluar berhamburan begitu saja. Ada yang membawa koper, ada seorang ibu yang menggendong anaknya. Ada juga anak-anak muda yang berjalan sambil selfie dan membuat video untuk konten dan story.
Dan ketika kerumunan orang itu mulai pudar. Indira melihatnya.
Satria.
Badannya tegak, tinggi, ia tumbuh begitu besar. Dan wajahnya lebih tampan, dengan rambut yang lebih rapi disisir ke belakang. Warna rambutnya tetap hitam pekat. Ia mengenakan kaos polos bewarna hitam sedikit ketat. Dan Jaket kulit bewarna cokelat.
langkahnya santai, dan tidak terburu-buru seolah tidak mengenal kata panik. Satu tangan kirinya memegang koper hitam. Dan satunya lagi memegang handphone.
langkahnya semakin dekat. Semakin lama wajahnya semakin jelas. Dan yang membuat Indira lupa bagaimana caranya bernapas adalah perubahan besar padanya yang tidak bisa diabaikan.
Bahunya melebar, rahangnya tegas. Ada aura "dewasa" yang membuat suhu tubuh Indira naik-turun.
Indira menelan ludah. Ia tak bisa berlama-lama menatapnya. Dan dalam sekejap semua kalimat yang dia hafalkan jauh-jauh hari, hilang begitu saja. Bagaikan file yang nggak sengaja ke deleted.
Satria menoleh, mencari sosok yang juga ingin dia temui selama ini. Matanya menyapu kerumunan. Dan saat ia menangkap sosok di depannya— senyumnya pun muncul.
Indira semakin gugup. Melihat senyuman itu yang sudah lama ia rindukan. Senyum saat Satria perlihatkan ketika melihat Indira pura-pura tidur. Lalu ia mengingat beberapa moment saat Satria tertawa, bercanda, dan suka usil ketika Indira sedang belajar.
"Indir!"
Suara yang memanggil namanya tetap sama. Terasa begitu hangat dan familiar. Tetap membuat hati Indira terasa seperti diseduh dengan sesuatu yang manis.
Indira melangkah lebih dekat. Tak ada orang tua Satria dibelakangnya. Artinya Satria tidak bersama keluarganya kembali.
Ia melambaikan tangannya.