#Bab 2. Yang Tidak Pernah Pergi
"Aku minta maaf," ucap Indira pelan agar Velove di belakangnya tidak mendengarnya.
"Untuk apa?" Satria bingung.
"Apa nggak apa-apa pacarmu duduk di belakang?"
"Nggak masalah, kamu nggak usah khawatir!"
Indira mengangguk. Pikirannya tidak tenang. Ia melihat Velove sibuk bermain dengan ponselnya.
Sementara mobil masih melaju, menyelinap di antara deretan kendaraan yang sama-sama terburu-buru dan mengarah ke tujuan masing-masing.
Velove masih duduk di kursi belakang, tepat di tengah-tengah. Dari sini, ia bisa melihat sebagian wajah Satria dari spion tengah, dan sebagian profil Indira dari sudut mata.
Di mata Velove, mereka terlihat seperti pasangan yang cocok dan serasi. Terlalu cocok, sampai Velove merasa mereka berdua tidak bisa dipisahkan. Padahal realitanya mereka berdua adalah teman, sahabat.
Katanya... cewek dan cowok itu nggak bisa berteman.
Velove yakin, diantara hubungan persahabatan itu pasti ada cinta yang mungkin tak bisa disampaikan.
Meski cuma sedikit, pasti ada. Dan itu mungkin—diantara mereka ada rasa yang tak tersampaikan.
Indira menoleh ke jendela. Melihat gedung-gedung tinggi berbaris, ada yang terlihat baru, ada juga yang masih sama seperti tiga tahun lalu. Kota ini sudah berubah, tapi tidak semuanya. Seperti dirinya—kini banyak yang berubah, tapi tidak sejauh yang orang kira.
“Indir masih tinggal di tempat yang sama?” tanya Satria tiba-tiba.
Indira tersentak kecil.
“Iya.”
“Sendirian apa masih sama keluarga?”
“Iya masih sama keluarga."
Velove menyimak obrolan mereka sedikit.
“Nggak kepikiran pindah?” sambung Velove ikutan.
Indira mengangkat bahu.
“Belum.”
Indira tidak bilang alasan sebenarnya. Bahwa tempat itu terlalu banyak menyimpan kenangan. Baginya pindah rumah itu terasa seperti mengubur dan meninggalkan kenangan. Ia berharap bahwa selama ini orang yang dinantikannya akan kembali pulang ke tempat yang sama. Tapi nyatanya... tidak.
“Oh iya,” kata Satria, seolah baru ingat.
“Indir sekarang kerja apa kuliah?”
“Kerja.“
“Kerja dimana?"
“Di Agensi Konten,” jawab Indira. “Ngerjain brand, kadang nulis.”
“Nulis?” Satria menoleh lebih lama kali ini. “Serius?”
Indira mengangguk.
“Iya.”
“Keren.” Ada nada tulus di sana.
“Dari dulu aku tau kamu suka nulis.”
Velove tersenyum.
“Aku juga suka baca. Mungkin suatu hari nanti bisa baca tulisannya Indira.”
Indira membalas senyum itu.
“Mungkin.”
Kata mungkin terasa aman. Tidak berjanji apa-apa.