Cinta di Jantung Istana

Bloody Sheesh
Chapter #1

Prolog

“Sudah tiga hari, Hores. Kau menghabiskan darahmu di sini. Jika kau memang mencintai Ava. Biarkan dia bereinkarnasi, dia akan hidup kembali. Berharaplah akan menjadi manusia. Tapi, dengan menyimpan jasadnya kau tidak akan mendapat apa pun. Selain itu, apa yang kaulakukan bisa membuatmu terbunuh. Kau satu-satunya yang kumiliki. Aku tidak ingin kehilangan dirimu.”

 Raja Vanderox menjulang tinggi di belakang, menatap sebentuk bahu Hores yang lunglai ketika pria itu bersimpuh di depan peti tembus pandang, sambil meletakkan tangan ke dalam. Darah terus dibiarkan menetes supaya mengisi penuh dan merendam tubuh kaku Avanthe sebagai proses pengawetan. Tidak ada yang tahu kapan semua berakhir seperti semestinya. Sebagian dari mereka menyimpan pengetahuan berani bahwa Avanthe jelas-jelas tidak akan kembali. 

 Bagaimanapun, Raja Vanderox tak sanggup melihat putranya menderita. Hores seperti hilang arah; tersesat; melupakan bahwa pria itu masih harus hidup untuk melanjutkan permintaan Avanthe. 

 Janji memang tidak diikrarkan saat itu, bahkan sampai detik ini. Raja Vanderox tak ingin mengambil risiko. Cucu-cucunya terlantar, meski dia telah mengusahakan banyak cara supaya tidak ada yang terasa kurang bagi Aceli maupun Hope si bayi. Ayah mereka sedang dalam masa kehilangan yang rumit. Tidak ada pembicaraan sejak hari terakhir, seolah satu-satunya yang Hores inginkan adalah mendapati Avanthe tiba-tiba terbangun, tetapi itu menjadi hal terakhir—dan tidak mungkin.

 Raja Vanderox melangkah tentatif, lebih dekat menyentuh bahu Hores yang mendadak tegang. “Kau harus mengistirahatkan dirimu sementara waktu, Nak. Bak itu sudah hampir terisi separuh. Kita bisa melanjutkan lagi kalau memang kau tak bisa membiarkan wanita yang kau cintai pergi. Tapi, kau harus ingat darahmu juga akan habis. Percayalah, sebenarnya Ava tidak akan suka dengan apa yang kau lakukan.”

 Masih belum ada tanggapan. Raja Vanderox merasa putus asa menyaksikan putranya terdampar di ombak penderitaan. Dia seperti menyaksikan Hores hidup, tetapi juga mati. Ini sama menyakitkan. Tidak ada pilihan terbaik. Seperti ratusan tahun lalu dia diberi hak mutlak menyelesaikan konsekuensi rumit dengan menikahi wanita penjilat, yang sekarang malah berbalik arah melakukan perlawanan. Mereka kembali kehilangan jejak Margarheta Bell. Jalang itu tahu pelbagai cara memanipulasi dan bersembunyi dengan permainan waktunya. Mereka tidak tahu kapan Margarheta Bell akan kembali.

 Namun, setelah mengenang kematian Avanthe. Raja Vanderox akan memastikan sendiri suatu hari nanti Margarheta Bell akan mati mengenaskan di tangannya. Hanya perlu menunggu saat-saat wanita itu kembali bersiap untuk berperang. 

 Sekarang yang Raja Vanderox inginkan adalah bagaimana cara membuat Hores bergairah hidup. Putera mahkota-nya. Penerus-nya. Dia masih menginginkan Hores yang memimpin kerajaan, tetapi pria itu menolak dengan tegas, bahkan sebelum peristiwa ini merenggut seluruh kebahagiaan. 

 “Jangan buat kematian Ava menjadi sia-sia, Hores. Dia sudah menyelamatkan nyawamu. Kau harus hidup untuk menyalakan semangatnya. Kita akan mendapatkan keadilan, aku berjanji kepadamu, sekarang beristirahatlah. Kau sudah kehilangan banyak darah.”

 Raja Vanderox memilih bersimpuh, persis di samping Hores sambil mengetatkan sentuhan di bahu pria itu. Dia nyaris tak berharap akan ada tanggapan, tetapi sepertinya Hores telah memiliki sesuatu untuk dikatakan.

Lihat selengkapnya