Prosesi kremasi jasad gadis 19 tahun telah dipersiapkan. Semua orang berduka. Menangisi kematian oleh satu sebab; serangan jantung brutal yang menyerupai ledakan waktu untuk merenggut kebahagiaan siapa pun—yang belum separuh itu dapat dirasakan.
Salah seorang wanita tua masih menangisi putrinya di dalam peti mati. Histeria di balik suara menggelegar bahkan menegaskan pelbagai prospek paling mustahil. Anak perempuan yang dia begitu sayangi akan pergi untuk selamanya. Dia tidak pernah tahu bahwa umur putrinya akan berakhir jauh lebih singkat. Padahal, mereka sudah mendambakan kehidupan layak, tetapi semua itu sungguh terjadi dengan tiba-tiba.
“Averi, bangun, Nak! Ibu masih membutuhkanmu.”
Wanita itu menyadari ironi di balik peristiwa hari ini. Ketika tubuh anak perempuannya mengabu, dia tidak akan bisa mengharapkan apa pun lagi. Semua merupakan perumpamaan terburuk. Menjadi sebatang kara tidak pernah termasuk ke dalam daftar, apalagi wanita itu tahu betul apa yang sebenarnya putrinya inginkan. Mereka tidak bisa mewujudkan sebuah harapan paling sederhana setelah kematian datang begitu dekat.
“Averi, buka matamu. Lihatlah, ibu masih sangat membutuhkanmu.”
Tidak ada tanggapan. Sia-sia. Tubuh kaku di dalam peti tidak menunjukkan sesuatu; sebuah harapan paling dasar dari sifat manusia. Wanita itu berharap dia bisa memeluk anak perempuannya untuk terakhir kali, tetapi hanya keberadaan peti membatasi ruang di antara mereka.
“Ibu sangat menyayangimu ....”
Wanita itu berkabung dari lubuk hati paling dalam. Dia memejam membayangkan tinggal sebatang kara, tetapi tidak pernah tahu ternyata suara tarikan napas panjang seseorang dalam sekejap menarik perhatiannya.
Tubuh yang kaku itu seketika terbangun.