Satu bulan kemudian ....
.
.
.
Serangan brutal; dilakukan oleh beberapa kaum tak dikenal telah meninggalkan pelbagai hal buruk nyaris di seluruh wilayah pedesaan. Ada bekas pembakaran di sebagian tempat, yang tadinya adalah damai penuh gemuruh, sekarang menjadi luluh lantak, kacau dan teluh.
Bukan sebuah prospek bagus.
Penduduk desa terus berlarian. Mencari tempat persembunyain teraman. Sama seperti kebutuhan yang mendesak Avanthe ketika dia ditarik mengikuti langkah wanita tua, Osiana, yang pernah menangisi kematian Averi, saat ini secara teknis adalah ibunya setelah usaha untuk berbaur. Memahami bahwa dia benar-benar menetap di tubuh Averi sampai waktu tidak ditentukan.
Avanthe sesekali menoleh ke belakang, ingin mengetahui sudah sejauh mana proses pelarian diri membawa dia dan Osiana menepi. Mereka berusaha keras untuk tidak terlihat, tetapi suara-suara menderap terdengar seperti gema mengerikan.
“Ayo, Ave. Kita harus lebih cepat. Mereka tidak mengejarku, tapi kau ....”
Sebelah alis Avanthe terangkat tinggi menanggapi pernyataan Osiana. Sejak awal dia memang menyadari bahwa kaum tak dikenal itu ... tidak melenyapkan orang-orang yang tinggal. Hanya sesekali akan mengacau jika mengetahui disterasi penolakan di antara; sebagian dari penduduk desa.
“Mengapa mereka mengincarku?” tanya Avanthe sebagaimana dia tak memiliki petunjuk murni.