Hari kedua di sini setelah dibangunkan dengan cara tidak wajar. Avanthe berdiri di barisan belakang untuk mendengar penyuluhan tentang apa dan yang tidak harus dilakukan. Ada beberapa aturan, itu sudah dideklarasikan luar biasa jelas. Dia hanya tidak ingin terlarut makin jauh mengenai sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Hores sungguh tidak mengingat apa pun, bahkan kejadian semalam seolah bukan peristiwa penting. Pria itu menganggapnya orang asing.
“Ada hubungan apa antara kau dan Roarke? Aku melihatmu seperti sangat mengenalnya.”
Seseorang berbisik lambat, menuntut Avanthe untuk menoleh secara naluriah. Dia hampir menelan ludah kasar, tetapi segera mengerti bahwa mereka belum berkenalan.
“Aku Averi. Kau?” tanyanya sebagai proses peralihan.
“Seline.”
Mereka tersenyum selama intruksi masih bergemeruh di depan. Kegiatan pertama dari perjalanan yang akan dilalui adalah latihan fisik. Butuh pertahanan kuat jika memang tujuan mengumpulkan para tahanan yakni untuk mencegah perdamaian dunia.
“Kau tak coba-coba mengalihkan pertanyaanku, kan?”
Seline menambahkan saat Avanthe memang tak berniat menjabarkan apa pun. Dia gugup. Berusaha keras mencari jawaban yang tepat.
“Tidak.” Sambil menggeleng. Suara di ujung tenggorokan kembali melanjutkan. “Aku tidak mengenalnya.”
Bohong besar jika Avanthe tidak mengenal Hores sebaik yang dia tahu bahwa pria itu mencintainya. Sesuatu telah terjadi. Tidak ada petunjuk. Tidak ada apa pun sekadar menemukan penyebab, mengapa dampak terasa begitu jahat. Mereka hampir memiliki masa lalu yang indah dan berakhir dengan tidak semestinya. Avanthe tersenyum getir membayangkan momen terakhir bersama Hores, tidak sadar ... ternyata Seline akan kembali mengatakan sesuatu.
“Yakin tidak mengenalnya? Kelakuanmu benar-benar aneh semalam. Yang lain menganggapmu terlalu berani, karena kau tidak seharusnya keluar dari barisan.”
Avanthe menipiskan bibir singkat, bingung memikirkan apa yang bisa menghentikan percakapan mereka di sini. Terlalu buruk untuk mengingat rasa sakit karena tidak dikenali.