Cinta di Jantung Istana

Bloody Sheesh
Chapter #8

Bab 7

Napas Avanthe tercekat menyaksikan pelbagai adegan tidak benar ditampilkan di layar besar. Dia tidak pernah tahu bahwa Raja Vanderox punya kebiasaan menyiksa Hores. 

Sayap merah ... yang dicabik-cabik dengan kedua tangan justru mengingatkannya pada hari di mana pria itu sering bermimpi buruk sambil menggumamkan Margarheta Bell sebagai pelaku terduga. 

Sayap merah yang juga pernah Avanthe lihat secara langsung, sekali seumur hidup, tetapi dia baru mendapat petunjuk bahwa peristiwa mengikat di sanalah yang menjadikan dampak dari kejahatan Margarheta benar-benar nyata. Sayap Hores tidak sempurna. Bahkan bulu sewarna darah pria itu tumbuh penuh dengan rumpang. 

Avanthe yakin Margarheta Bell hanya ingin mengambil untung terhadap situasi Hores di sini. Cairan pekat yang disuntikkan beberapa waktu lalu ke pembuluh darah pria itu adalah serum penanam rasa takut. Dia tidak tahu dengan persis, tetapi cukup percaya bahwa pendekatan di benaknya sangat tepat. Margarheta Bell sengaja menampilkan sejauh mana prospek dari pikiran Hores berlangsung, supaya wanita itu bisa mengembangkan sesuatu yang lebih menyakitkan; ingin meninggalkan pelbagai kebencian di dalam diri Hores kepada Raja Vanderox, padahal tidak. 

Hores tidak akan pernah bisa membenci ayahnya, walau tidak dimungkiri kemampuan Margarheta cukup berbahaya. Sikap dasar wanita itu tidak bisa dianggap remeh. Avanthe harap dia bisa lebih hati-hati mengambil tindakan apa pun, meski sesuatu dalam dirinya mendambakan kematian Margarheta Bell. Sekarang hanya tersisa penyesalan mengapa tidak melenyapkan nyawa Margarheta Bell di hari perang berlangsung.

“Sudah cukup. Dia tidak bisa melawan simulasi ini lebih lama. Setidaknya aku sudah menanamkan dua rasa takut. Mungkin masih ada beberapa yang ingin kulakukan. Nanti. Sekarang biarkan dia di sini. Anak ini akan kembali ke tempatnya setelah sadar.”

Sayup-sayup percakapan tunggal yang disusul derap langkah beberapa orang menarik Avanthe ke permukaan. Dia mengerjap dan mencari tahu apa yang telah dia lewatkan. 

Kelegaan langsung mendesak masuk ke rongga dadanya mengetahui Margarheta Bell bersama bawahan wanita itu telah meninggalkan ruang simulasi. Ini kesempatan bagus. Avanthe mengedarkan pandangan, kemudian diam-diam menderap masuk dengan satu tujuan pasti.

Dugaannya benar tentang kejahatan Margarheta Bell. Serum penanam rasa takut membuat Hores tidak sadarkan diri. Kelopak mata pria itu sungguh hanya terpejam. Hal yang membuat Avanthe takut adalah gerakan dada yang begitu lambat.

“Hores,” panggilnya seraya memberanikan diri untuk mengajukan ujung jari menyusuri rahang kasar itu.

“Bangun, Hores.”

Lagi. Dia tidak akan menyerah sampai Hores menunjukkan reaksi terbaik. Mereka harus pergi dari tempat ini. Entah bagaimana caranya. Avanthe akan berusaha mencari tahu. Dia tidak setuju jika Margarheta Bell merencanakan sesuatu lebih rumit. Hores bukan bahan percobaan atau sesuatu untuk memuaskan keinginan wanita itu.

“Hores bangun.”

Lihat selengkapnya