Cinta di Jantung Istana

Bloody Sheesh
Chapter #14

Bab 13

Gambaran dari citra pikiran Avanthe begitu samar ketika dia berusaha keluar dari bentuk halunasi asing. Bayangan tentang masa lalu Averi mengambil seluruh tempat. Itu terasa menyakitkan seperti diledakkan ngengat api. Sesekali, semua ketakutan yang tidak pernah Avanthe miliki muncul menghantui dengan cara tidak biasa. Dia bersuara di bawah alam sadar sambil bergerak tidak tenang.

 Margarheta Bell adalah orang di balik semua ini. Wanita itu berharap akan menemukan jawaban terhadap peristiwa setelah mereka berlatih pedang. Barangkali meyakinkan suatu korelasi antara luka dan darah yang terjadi seperkian cepat, tetapi pencariannya tidak menemukan jawaban. Tidak akan.

Averi pada akhirnya bukan Avanthe. Layar monitor telah menunjukkan bahwa segala sesuatu yang Margarheta Bell khawatirkan tidak pernah terjadi. Wanita itu hanya menatap lurus ketika tiba-tiba kesadaran Avanthe terenggut ke permukaan.

Sorot mata mereka bertemu, tetapi tidak tersampaikan niat buruk setelah mungkin—wanita itu sadar bahwa dirinya telah melakukan hal sia-sia.

Avanthe meneran ludah kasar mengamati langkah Margarheta Bell diiikuti dua pria paling setia itu. Mereka berjalan keluar, meninggalkannya sendiri di ruang simulasi seperti yang pernah dilakukan kepada Hores. Masih tersisa ingatan tentang bagaimana salah seorang bawahan Margarheta Bell meminta supaya dia keluar dari asrama untuk menemui wanita itu. 

Avanthe bersikap patuh karena tidak pernah tahu ternyata hal ini yang akan dia terima. Hening terasa mencengkeram. Dia mengernyit sekadar ingin bangun dari kursi serupa ranjang tidur milik Margarheta Bell, kemudian segera menyadari derap sayup-sayup dari seseorang terasa begitu dekat.

Hores.

Napas Avanthe langsung tertahan mengetahui pria itu mendatanginya. Pakaian serba hitam membalut sempurna di tubuh kokoh, liat dan otot dada yang terlihat mencuak di balik kaos lengan pendek polos di sana.

“Kau baik-baik saja?”

Suara berat dan dalam Hores pertama kali mencuak ke udara. Avanthe mengangguk singkat, lantas menerima segala bentuk bantuan saat pria itu mengulurkan tangan. Dia pikir akan ada setidaknya satu hal ... yang membuat Hores mengingat sesuatu setelah melukainya. 

Namun, sepertinya tidak. Pria itu bahkan tidak mengatakan apa pun, selain hanya membawa mereka secara terburu meninggalkan ruang simulasi. Sesuatu yang ganjil menyemat di benak Avanthe. Dia mengedarkan pandangan dan mendeteksi Hores tidak menuntunnya kembali ke asrama, atau ke base-camp pria itu sendiri.

“Kau mau membawaku ke mana?” tanya Avanthe bingung. Langkah Hores terlalu lebar sehingga dia berjalan nyaris seperti berlari.

“Apa kau mengingat sesuatu, Hores?” Dia menambahkan dengan setengah berbisik. Mereka tidak bertemu setelah Margarheta Bell membubarkan aktivitas di balik dinding. Berharap jika akan ada harapan, tetapi mungkin terlalu mustahil hingga Hores berhenti secara mendadak.

Lihat selengkapnya