“Kenapa kita ke sini?”
Avanthe tidak akan bisa menahan diri lebih lama. Terus mengamati setiap detil kegiatan Hores, tetapi pria itu telah mengeluarkan sesuatu, yang terlihat kokoh dan keras dalam genggamannya.
Apa yang akan dilakukan?
Benak Avanthe bertanya-tanya ketika akhirnya Hores mendekat. Pria itu menjulang tinggi, sehingga dia lagi-lagi harus menengadah sekadar melakukan kontak mata.
“Aku tahu maksudmu, saat kaubilang tidak bisa membiarkan semua yang dilakukan Margarheta Bell supaya terjadi. Tapi, aku tidak bisa melakukan sesuatu selama tidak bisa mengingat sesuatu yang berusaha kembali dalam pikirkanku. Kau mungkin bisa bantu untuk menyelesaikan sesuatu di sini.”
“Bantu apa?”
Napas Avanthe tercekat membayangkan apa yang sedang Hores pikirkan. Benda di tangan pria itu seperti palu. Barangkali untuk memukul?
“Seseorang harus mengalami benturan demi mengingat sesuatu. Aku yakin kautahu maksudku.”
Avanthe segera menggeleng samar. Dia memang mengerti segala bentuk peristiwa di sini. Namun, ada satu pendekatan yang membuatnya merasa tidak bisa menerima permintaan Hores dengan baik. Tidak akan pernah. Bagaimana jika rasa sakit sudah diterima dan pria itu tidak memberi prospek bagus sekadar mendapatkan kembali ingatan yang hilang?
“Aku tidak mau, Hores,” ucap Avanthe lambat. Dia sengaja bersikap tidak setuju, walau Hores kemudian memiliki sesuatu untuk dibicarakan.
“Kau harus melakukan ini, maka kita sama-sama bisa menggagalkan rencananya.”
Mereka masih membicarakan tujuan Margarheta Bell. Itu benar, tetapi Avanthe tidak bisa memikirkan ini sebagai satu-satunya cara.
“Jika aku memukuli kepalamu agar kau bisa mengingat setiap detik saat bersamaku. Aku ingin melakukannya. Tapi, aku tidak bisa. Aku tidak akan bisa menyakitimu lagi. Sudah banyak hal yang kita lewati, dan rasanya ... menyelamatkan nyawamu saja itu tidak pernah cukup.”
Jantung Avanthe mencelus ketika mengatakan hal tersebut. Tangannya terulur secara naluriah menyentuh rahang kasar Hores. Ada cinta, yang dia tahu tidak pernah Hores sadari. Namun, mata gelap itu telah memberi sedikit harapan.
Senyum Avanthe melekuk tipis setelah dia memberanikan diri untuk menggerakkan ibu jari menyusuri bibir panas Hores. Tidak ada bantahan. Malahan, pria itu secara perlahan ikut melakukan tindakan nyaris serupa.
Avanthe dapat merasakan betapa kasar telapak tangan Hores saat pria itu menyematkan sentuhan ringan di wajahnya. Dia sudah sangat merindukan perasaan seperti ini. Merindukan kedekatan, yang hanya berdua ... untuk sama-sama merasakan kenangan yang pernah begitu ada.