“Ternyata jarak rumah kita cukup jauh, ya. Pantas, kita tidak saling kenal waktu itu.”
Seline bersuara sambil mengamati suasana di sekitar. Sesuatu yang Avanthe tahu bahwa mereka telah satu hari di sini usai kembali dari tempat berladang Margarheta Bell. Tidak ada yang tahu bagaimana keadaan Hores saat ini. Tidak ada kabar, karena tidak ada cara untuk saling mengirim pesan.
Avanthe hanya selalu berharap Hores baik-baik saja dan pria itu akan kembali menjemputnya. Entah kapan ....
Sesekali, dia akan mengembuskan napas dengan samar. Tidak ingin Seline mengetahui kegelisahan di benaknya, meski gadis itu akan segera memahami situasi yang mereka hadapi.
“Kau masih memikirkan Roarke?”
Satu pertanyaan menarik perhatian Avanthe untuk menatap wajah cantik gadis di hadapannya. Seline tersenyum tipis, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh lengan yang tergoler di pinggir ranjang.
Mereka memang sedang di rumah Osiana. Gadis itu datang berkunjung, tentunya karena mereka telah menjadi akrab selama beberapa minggu terakhir. Avanthe senang bahwa dia menemukan teman baik seperti Seline, yang selalu berusaha memahami, meski akan terlalu rumit jika gadis tersebut ingin mencari tahu terlalu jauh.
“Saat aku bilang kalau dia mirip dengan kekasihku, kautahu ... dia memang kekasihku.”
Atau bahkan masih suaminya. Avanthe nyaris tidak memiliki cara menjabarkan hubungan bersama Hores. Dia mendeteksi Seline—tentunya, tidak menatap terkejut, seolah gadis itu telah mengumpulkan sebuah informasi yang tidak pernah bocor ke permukaan.
“Dari caramu terus memperhatikan Roarke, aku sudah bisa tebak kalau dia tidak hanya mirip.”
Sudut bibir Seline melekuk tipis setelah mengatakan hal tersebut.
Perasaan yang bergemuruh kepada Hores, tidak akan bisa disembunyikan dengan baik. Avanthe tidak akan menyalahkan gadis itu, meski mungkin hanya berlaku bagi setidaknya ... mereka yang sentimental; mereka yang dengan mudah memahami perasaan seseorang.