“Averi.”
Suara Osiana terdengar di kejauhan, meliputi seisi ruang yang tadinya luar biasa hening setelah Seline memutuskan untuk berpamitan pulang. Gadis itu masih harus mengerjakan sesuatu, tertinggal, di rumahnya. Sama seperti halnya Avanthe, dia seharusnya melakukan suatu aktivitas, bukan malah berdiam diri di sini, merenungi sesuatu yang tidak pasti.
Tanpa sadar sudut bibir Avanthe berkedut getir. Nyaris tidak ada minat menanggapi apa pun yang mungkin melibatkannya. Masih ingin sendiri. Masih ingin menikmati bagaimana rasa sakit dan ketakutan beradu menjadi satu ledakan paling dashyat.
Avanthe tahu ... dia telah bersikap tidak sopan membiarkan Osiana menyusul hingga suara derap langkah wanita itu berhenti di depan pintu kamar.
Ada jeda beberapa saat, yang membuat Avanthe tidak mengerti mengapa Osiana memutuskan tidak langsung mengatakan sesuatu. Barangkali sedang menyimpulkan hal yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan. Dia segera mengangkat wajah sekadar menatap wanita itu di sana. Sedikit tak menyangka bahwa dia akan mendeteksi ekspresi ganjil, tidak begitu menyakitkan, sedang bersarang sebagai upaya perlindungan.
“Ada apa, Ibu?”
Demikian Avanthe mengajukan pertanyaan sembari mengatur posisi bangun demi berhadap-hadapan langsung bersama Osiana.
“Seseorang mencarimu.”
Hanya itu. Tidak begitu rinci, menuntut Avanthe untuk mengangkat sebelah alis tinggi.
“Seseorang mencariku?” Dia berbalik tanya, menunggu kapan akan ada petunjuk, meski sepertinya terlalu mustahil mendambakan sesuatu di antara mereka..
“Ya, tapi aku tidak yakin kau mengenalnya.”
Osiana menjabarkan hal tersebut dengan keraguan bersarang di benak wanita itu. Avanthe memang tidak begitu mengenali orang-orang di pedesaan, selain usaha untuk berbaur secara perlahan. Dia masih tak mengerti. Belum menemukan jawaban. Namun, jika pergi memastikan langsung akan menjadi pilihan paling tepat, benaknya tak merasa keberatan. Paling tidak, masih tersimpan sedikit harapan bahwa Hores-lah yang datang menemuinya.
Avanthe ingin seperti itu. Segera diliputi euforia sambil menatap wajah Osiana dengan senyum hampir tak terkendali.
“Di mana aku bisa temui orang yang mencariku?” Dia bertanya antusias, mengira Osiana akan bersikap sama, yang ternyata ... wanita itu menatap skeptis ke arahnya.
“Ada di luar. Aku memintanya menunggumu di luar.”