Itu terdengar mengerikan. Diam-diam Avanthe mencoba waras sekadar memikirkan ancaman Margarheta Bell. Wanita gila. Apa yang sebenarnya Margarheta Bell pikirkan?
“Mengapa dia ingin kau bersamanya?” Pertanyaan tersebut mencuak begitu saja, seolah naluri telah memiliki keinginan menyelesaikan yang tergambang di antara mereka.
“Karena aku tahu sebuah rahasia.”
“Rahasia?” Agak terkejut, tetapi Avanthe tidak berhenti begitu saja. “Apa?”
“Tidak bisa. Aku tidak bisa mengatakan ini kepadamu.”
Gelengan samar berulang dari Ankrostera meninggalkan sepetak perasaan ganjil. Avanthe menatap wanita itu dengan harapan yang sama. Dia perlu tahu sebuah rahasia. Perlu mempertimbangkan kembali apakah ini akan terlalu genting. Mungkinkah sebuah motivasi usang masih melibatkan Margarheta Bell? Seharusnya seperti itu. Hanya saja, keheningan seakan menggantung melebihi batas. Tidak ada yang bersuara. Tidak ... bahkan saat Avanthe telah menyiapkan pelbagai hal untuk dipertanyakan, seolah ada sesuatu yang menahan dan membuatnya bersikap patuh.
“Ava.”
Suara berat dan dalam yang familiar tiba-tiba mengambil andil di sekitar udara. Wajah Avanthe berpaling. Saat itulah ... dia merasakan sekujur tubuh disengat oleh kejutan listrik. Semua mendadak padam, persis ketika logikanya tak sanggup berjalan memikirkan segala sesuatu dan terjadi di sini.
Benarkah yang saat ini dia lihat? Bahwa Hores kembali dalam keadaaan utuh, meski tidak cukup baik-baik saja untuk digambarkan. Rambut hitam pria itu teracak berantakan dengan beberapa bagian di wajah terlihat diliputi bekas kebakaran—arang—menghitam, paling mencolok di bagian kening.
Namun, sialan, Hores masih saja tampan. Sedikit tidak adil pada pakaian terakhir yang membalut di sana, setidaknya telah ditandai oleh robekan panjang.
Rongga dada Avanthe berdebar keras, tetapi dia dapat merasakan betapa getir harus berusaha menenangkan segenap desakan tak terduga. Tidak ada yang mengira jika pria itu akan muncul bersama seseorang menemaninya di sebelah, yang juga seorang pria lanjut usia.
Hores sama tua-nya, bahkan jauh lebih, hanya saja tidak mengalami krisis penuaan. Pria itu akan selalu seperti itu, yang Avanthe inginkan dalam hidup dan matinya. Dia harus segera sadar, alih-alih membeku diam dan memborong seluruh kebodohan.
Setipis senyum di bibir menjadi bagian paling penting ketika satu langkah berikutnya adalah kebutuhan memeluk tubuh Hores seerat mungkin. Mereka mengagumi perasaan yang sama untuk tidak berakhir timpang. Hores membalas apa pun dengan lekuk lengan mengetat, terkadang memberi ciuman ringan di batas puncak kepalanya.
Senang dapat merasakan debaran keras di dada pria itu, seakan dapat mengetahui ada suatu kehidupan di sana, entah bernama cinta atau hal-hal lebih rumit lainnya, yang Avanthe inginkan karena mereka kembali bersama, merasakan betapa hangat sebuah keinginan untuk saling mengimbangi, tetapi mungkin sebuah pembeda telah membuat sesuatu di antara mereka mengalami dampat serius. Dia terlalu riang hingga melupakan keberadaan Ankrostera, dan ketika menoleh ke satu tempat di sana, wanita tersebut telah hilang tanpa jejak.
“Ke mana dia?”
Avanthe bergumam secara naluriah mengambil beberapa jarak dari tubuh Hores. Pria tua yang sempat terlupakan di antara mereka segera berpamitan pergi, begitu pula suara berat dan dalam terdengar bicara—berterimakasih.
Hores akan segera memahami bagian paling ganjil di antara mereka, yang masih menarik perhatian Avanthe untuk menatap ke satu titik dengan pelbagai perasaan hampa.
“Kau tidak seharusnya bicara bersamanya.”
Kali pertama setelah mereka tertinggal berdua. Hores mendekat, kemudian menarik bahunya lebih dekat. Dia sudah menduga jika ternyata pria itu mendeteksi ancaman, tetapi semua dalam penanganan baik oleh rasa ingin bertemu yang lebih besar.
Avanthe menghela napas panjang, kemudian menggeleng samar. “Kita harus bicara dengannya, sampai Ankrostera mau mengatakan sesuatu. Ada rahasia yang tidak pernah kita tahu.” Dia menatap Hores lekat-lekat, mencari jawaban, meski pria itu hanya menatapnya dengan kernyitan ganjil ... kemudian sedikit meringis, benar-benar hanya membutuhkan tempat menampung tubuh jangkung yang nyaris tergoler lemah.
“Aku akan membantunya.”
Sayup berbisik; Avanthe menuntun Hores masuk ke dalam rumah. Setidaknya lebih baik biarkan pria itu teduh di bawah atap ruang saat sedang tidak baik-baik saja, dan butuh waktu untuk pulih lebih lama.
“Mana—biar aku lihat lukamu.”
Sambil bergegas, jemari Avanthe berusaha menarik ujung kain di tubuh Hores. Tadinya, dia pikir Hores akan bersedia, tetapi tidak. Pria itu telah mencegah setiap apa pun, hal, yang akan terjadi. Mereka tidak akan pernah beranjak jika terus seperti ini.
“Aku perlu tahu apa yang terjadi denganmu, Hores. Kau tidak akan terlihat kesakitan seperti ini jika memang tidak ada sesuatu.”
Sedikit memaksa, itu yang Avanthe lakukan sambil menyerahkan tatapan tajam. Dia akan mendelik lebih serius, andai, Hores berani mencegah satu tindakan tersisa. Untunglah, sekarang secuil kelonggaran bisa diharapkan ketika lengan pria itu menyingkir, yang membuat Avanthe langsung bertindak, tetapi tiba-tiba tersentak oleh suara Osiana di belakang.
“Siapa lagi yang datang mencarimu, Averi?”
Perlu sedikit berpaling untuk menyaksikan betapa wajah wanita itu menimbulkan reaksi instan; seperti sangat terkejut menyadari keberadaan Hores di rumah mereka. Ini aneh, seharusnya Osiana tidak bersikap berlebihan saat wanita itu sebenarnya tidak mengenal siapa pria yang sedang terluka, karena Hores sendiri tidak menunjukkan perubahan signifikan terhadap rasa waspada Osiana di sana.
“Jauhkan dirimu darinya.”
Tanpa peringatan, wanita itu langsung menarik lengan atas Avanthe. Menariknya sampai beberapa jengkal jarak terhadap Hores yang juga tidak memiliki kesiapan mencegah hal tersebut terjadi, lalu mereka besembunyi, dibatasi oleh sekat dinding kamar—dengan pemikiran di benak Avanthe yang belum tersampaikan. Dia menelan ludah kasar. Mencoba untuk memahami sesuatu, tetapi tidak menemukan petunjuk utuh tentang sikap Osiana.
“Apa yang kau lakukan, Ibu? Mengapa aku harus menjauh darinya.”
Pada akhirnya itu tidak akan bertahan lama. Avanthe bertanya saat Osiana membelai helai rambut yang menjuntai diliputi antisipasi besar. Wanita itu menggeleng seraya mendaratkan telapak tangan di rahangnya.
“Dia bukan orang baik.”
Ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak mereka jabarkan secara bersama dan menukik sebagai pemahaman berbeda. Osiana mungkin mengerti suatu hal seperti kali pertama wanita itu memperlihatkan ekspresi tidak nyaman terhadap kedatangan Ankrostera. Sekarang, ditambahkan keberadaan Hores, membuat wanita itu tidak akan bisa menahan diri dari kebutuhan menggunungkan sebuah kenyataan serius.