“Kemampuan Roarke semakin bertambah kuat. Teruma Penguasa Bawah Tanah dan para dewa dari Kerajaan Ossoron membuat kesepakatan, mereka akan mencapai kekuasaan kekal. Kita tidak akan menang, apalagi jumlah kita telah berkurang. Banyak. Mengapa kita tidak ambil gadis pemilik bola rozilog itu saja?”
Sudut bibir Margarheta Bell berkedut sinis mendengar pernyataan tersebut, yang ditambahkan penekanan di bagian akhir; sedikit saran, tetapi itu bukan sesuatu yang tepat. Seandainya Pandora tidak pernah menikah, mengandung, dan melahirkan anak dari pria bergaris keturuanan setengah dewa. Bola rozilog dipastikan tidak akan kehilangan fungsinya. Mereka tidak akan kehilangan kesempatan emas demikian. Sekarang perlu berdarah-darah untuk menggapai sesuatu yang mereka inginkan. Kekuasaan.
“Kau tidak lupa ingatan saat mengatakan ini, bukan, Cozy? Kautahu butuh seratus tahun lagi untuk bola rozilog itu kembali. Kita juga tidak pernah tahu akan dengan wujud seperti apa bola rozilog terbentuk. Di jantung seorang gadis manusia lainkah atau tidak. Bagaimanapun, kita akan tetap melakukan persiapan menyerang.”
“Roarke mungkin akan kembali ke Istana Bawah Tanah. Aku tidak akan membiarkan bajingan sialan itu lepas.”
“Avanthe ....”
“Ya, wanita itu datang dengan wajah yang sama, tetapi dia telah mengelabuhi kita. Andai saja aku menyadarinya dari awal. Ini tidak akan pernah terjadi, dan aku masih bisa membuat Roarke selalu menjadi robot tanpa otak milikku. Tapi tidak ada lagi kesempatan untuk mendorongannya menghadapi ayahnya.”
“Sialan!”
Margarheta Bell mendesis nyalang. Benaknya menganggap ini sebagai kekalahan murni, dan akan berakhir sebentar saja sebelum dia kembali melakukan sesuatu.
***
“Kau yakin tidak ingin ikut bersama kami? Ayah Hores tidak akan keberatan menerimamu di sana. Setidaknya kita masih bisa bertemu.”
Avanthe menatap wajah Osiana dengan sepercik perasaan hampa. Persiapan kembali ke Istana Bawah Tanah membuatnya harus meninggalkan pedesaan ini. Tempat yang sebenarnya menyenangkan, dia juga harus meninggalkan Seline, walau tidak berpamitan kepada gadis tersebut. Osiana sempat menawarkan diri bahwa wanita itu akan menyampaikan langsung; bahwa Avanthe dan Hores pergi ke Meksiko sebagaimana mereka pernah tinggal di sana. Seline akan mengerti, dan sebaiknya selalu mengerti.
“Aku sudah terbiasa tinggal di sini. Akan sulit meninggalkan tempat ini. Kalian pergilah, dan berjanji kepadaku akan selalu bahagia bersama.”
Pada akhirnya wanita itu tahu Hores tidak seburuk yang dibayangkan. Tidak ada lagi krisis keraguan, tentang hal-hal yang membuat wanita itu melakukan praduga salah. Ya, Margarheta Bell memang jahat. Ibu Hores memang jahat, tetapi tak berarti Hores sama seperti demikian. Dampaknya tidak merata, walau dulu sikap pria tersebut nyaris dapat dikatakan sama.
“Kami akan kembali setelah urusan di kerajaan selesai. Kau harus bertemu anak-anakku. Mereka juga pasti akan senang bertemu denganmu.”
Avanthe bicara diliputi senyum sumringah. Dia memeluk Osiana, cukup lekat untuk merasakan kehangatan yang menyebar di antara mereka.
Wanita itu sempat menepuk bahunya pelan sebelum akhirnya mengambil jarak untuk saling menatap, dan berkata, “Anak-anakmu pasti sangat cantik dan menggemaskan, kan?”