Cinta di Jantung Istana

Bloody Sheesh
Chapter #28

Bab 27

“Ava.”

Suara Shilom terdengar benar-benar bergetar ketika kali pertama reaksi wanita itu seperti disengat oleh kejutan listrik; tegang, membeku, diam, menatap lurus-lurus di satu titik dengan sorot mata tampak berkaca-kaca.

Avanthe mungkin bisa bercemin, andai yang dia lakukan bukanlah memeluk Shilom dengan erat. Mereka tidak bertemu untuk waktu cukup lama dan rasanya hanya itu yang ingin dia lakukan.

Lengan Shilom membalas setiap sentuhan di antara mereka begitu erat. Suara wanita itu terdengar samar-samar tercekat hingga mereka memutuskan sekadar mengambil jarak. Saling menatap, kemudian kernyitan heran muncul di kening Shilom.

“Ada apa dengan matamu? Kau memakai soflen?”

Seharusnya Avanthe belum menemukan jawaban utuh, tetapi pertanyaan Shilom pula telah memberinya petunjuk dan mengangguk. Akan terdengar lebih masuk akal jika dia sedang menginginkan gaya baru, alih-alih memberitahu bahwa mata, rambut, dan tubuh ini bukan benar-benar miliknya.

“Aku pikir kau kenapa-kenapa. Syukurlah.” Napas Shilom berembus lega. Wanita itu tersenyum tipis dan seolah menyadari sesuatu lainnya—langsung mengedarkan pandangan nyaris di seluruh tempat. “Di mana Hope?”

Avanthe tidak akan terkejut mendengar itu. Dia tersenyum tipis. Ingin segera bertemu si bayi, tetapi bersama Hores ... mereka telah membuat kesepakatan; untuk kembali ke Istana Bawah Tanah, perlu melewati portal tersembunyi di mansion mentereng ini. Alasan paling tepat mengapa pertama-tama adalah bertemu Shilom.

“Dia sedang bersama kakeknya,” ucap Avanthe lambat. Setidaknya dia menyadari Shilom seperti berusaha memahami beberapa hal.

“Kakeknya?” tanya wanita itu berusaha memastikan kembali.

“Ya, Ayah Hores dan ... juga ayahku.”

Reaksi Shilom terlihat ganjil. Sesaat mengerjap, lalu berkata, “Bukankah kau pernah bilang ayah Tuan Roarke sudah meninggal?”

Avanthe sungguh lupa ....

Dia diam sebentar sekadar mempelajari struktur ekspresi Shilom di hadapannya. 

“Ada sedikit salah paham. Kesalahan informasi membuatku berpikir aneh.” Sambil meringis, Avanthe harap Shilom akan memahami dengan singkat. Ekspresi wanita itu masih cukup skeptis, tetapi akhirnya tidak ada lagi yang seharusnya Avanthe khawatirkan, karena Shilom tidak akan teperangkap lebih jauh membayangkan hal-hal tidak semestinya.

“Kalau kau tidak keberatan, aku dan Hores akan langsung menjemput Hope,” ucap Avanthe sambil menatap ke dalam mata Shilom. Biarkan Aceli menjadi kejutan untuk wanita di hadapannya. Ingin tahu bagaimaa reaksi Shilom secara signifikan jika keduanya bertemu.

“Aku tidak keberatan. Tapi, kau janji tidak akan pergi lagi, kan, setelah ini? Maksudku, baiknya tinggal di sini saja?”

 Kekhawatiran terungkap begitu jelas. Avanthe tidak tahu haruskah dia mengikrarkan pernyataan yang belum menempati benaknya secara serius; tentang; apakah akan mengambil peran di mansion mentereng Hores atau tetap tinggal di istana bawah tanah. Semua terasa membingungkan. Pilihan terlalu sulit. Namun, barangkali tidak terlalu jauh jika mereka melewati lintas dimensi dunia. Hores telah menyiapkan tempat khusus dan di sanalah mereka akan menembus batasan yang tidak Shilom ketahui.

Lihat selengkapnya