“Kau membuatku melayanimu sepanjang waktu. Sudah cukup.”
Avanthe menyingkirkan dada liat Hores sedikit hati-hati, membuat pria itu jatuh tergoler di samping ranjang dengan senyum menggoda di sana. Sikap bahagia yang berlebihan tampaknya tidak akan terlalu cepat meninggalkan sesuatu dalam diri Hores.
Pria itu sengaja mengatur posisi tidur menghadap satu arah; hal yang pada akhirnya juga Avanthe lakukan. Mereka saling menatap. Berselimut berdua, tetapi dia tahu kebiasaaan Hores bahwa pria itu hanya, selalu ingin, menutup separuh tubuhnya, seolah senang—puas—memamerkan otot perut yang berkotak-kotak dengan celah dangkal yang juga terkadang tidak bisa dilewatkan.
Avanthe melekukkan bibir tipis sambil mengulurkan satu tangan sekadar menyentuh dada liat Hores. Mula-mula di sana, karena yang sebenarnya ingin dilakukan adalah memperhatikan bekas luka mengering di tulang rusuk pria itu.
Secara tentantif ujung jari Avanthe menyusuri puting Hores. Sengaja membiarkan pria di hadapannya sesaat akan menghindar. Namun, tidak dilakukan mengingat dia segera menggerakkan sentuhan ke bawah, tepat pada bekas tusuk yang terlihat baru-baru akan pulih. Tidak sepenuhnya pulih.
“Apa masih sakit?” dia bertanya, melakukan segala sesuatu dengan perhatian menjanjikan. Takut Hores akan memberi reaksi tertentu, tetapi pria itu justru menggeleng samar sambil menghentikan gerakan tangannya, maka mereka kembali saling menatap.
“Selama kau selalu ada untukku, tidak ada rasa sakit yang tak bisa kuhadapi.”
Itu terdengar berlebihan, meski Avanthe sedikit tergelitik oleh sikap ingin menghibur dari Hores. Dia mengerjap singkat, bergeser lebih dekat, lalu telapak tangan Hores akan mengambil pinggulnya dengan sentuhan ringan.
Ranjang berderak, saat-saat demikianlah napas mereka saling bertautan.
“Aku tadi seperti melihatmu memikirkan sesuatu. Ada yang ingin kaukatakan?”
Sudah tidak ada lagi yang bisa Avanthe tahan. Langsung mengajukan pertanyaan; mungkin sedikit membuat kedua alis tebal Hores terangkat samar. Bagaimanapun pria itu selalu sanggup mengendalikan sikap dengan baik.
“Bukan sesuatu yang buruk,” ucao Hores, hingga rasa penasaran di benak Avanthe lantas berhamburan singkat.
“Bukan sesuatu yang buruk?”
Dia berbalik tanya, setidaknya berhasil menuntut Hores supaya mengembuskan napas kasar. Tindakan yang meyakinkan jika ini mungkin bisa lebih buruk dari yang tidak terungkap.
“Raja bilang besok akan menyelesaikan semuanya.”
Kali pertama bicara. Rasanya itu masih tidak cukup komplit untuk memenuhi pengetahuan Avanthe yang kosong. Dia menelan ludah kasar dan menatap Hores amat serius.